Minggu, 24 November 2013

Lelaki yang Kehabisan Odol di Penjara

(True story)

Istrinya telat berkunjung, anaknya sudah melupakannya, sahabatnya mengabaikannya...semua menjadi hal-hal yang sangat menjengkelkan.

Lelaki itu merasa sendirian, bahkan lebih dari itu, dia merasa tidak berharga!

Berdoa untuk sebuah kesembuhan, atau minta dibukakan jalan keluar dari masalah pun adalah sesuatu yang wajar. Tetapi minta odol kepada Sang Pencipta alam semesta, tentunya harus dipikirkan berulang kali. Sesuatu yang sepele dan mungkin tidak pada tempatnya.

Tapi dengan  tekad bulat dan hati yang dikuatkan dari rasa malu, lelaki itu mengucapkan doa yang ia sendiri anggap itu gila.

Ia berbisik, “TUHAN, Kau mengetahui, aku sangat membutuhkan benda itu.”

Tengah malam, ia terjaga oleh seorang lelaki gemuk dengan  buntalan tas, dipaksa petugas masuk ke kamarnya.

Pagi harinya, lelaki penghuni penjara itu terbangun dan menemukan dirinya berada sendirian dalam sel penjara.

Loh mana Si Gemuk, pikirnya.
Apa tadi malam aku bermimpi?

“Dia bilang itu buat kamu!” kata petugas sambil menunjuk ke buntalan tas di pojok ruangan. Dia sudah kami bebaskan, dini hari tadi…biasa salah tangkap!” kata petugas itu, “dan tas dengan  segala isinya itu buat kamu.”

Lelaki itu menghampiri tas dan membukanya.

Tiba-tiba saja lututnya terasa lemas. Tak sanggup ia berdiri.

“Ya...TUHAAANNN!!!!” ia tersungkur, gemetar, dan wajah basah oleh air mata.

Di sampingnya tergeletak tas yang isinya lima kotak odol, sebuah sikat gigi baru, dua buah sabun mandi, tiga botol sampo, dan beberapa helai pakaian sehari-hari.

Kisah tersebut adalah kisah nyata.

Suatu ketika, saat kita merasa jalan di hadapan kita seolah terputus. Sementara harapan diganti deru ketakutan, kebimbangan, dan putus asa. Ada baiknya kita mengingat sungguh-sungguh, bahkan odol pun akan dikirimkan oleh-Nya bagi siapa pun yang membutuhkannya.

“Seandainya saja engkau mengetahui betapa dirimu dicintai-NYA, hatimu akan bersuka setiap saat”

Berdoalah untuk apa pun.

_____
(surat elektronik | anonim)

Minggu, 17 November 2013

Maaf

Seorang Ibu Guru taman kanak-kanak (TK) mengadakan sebuah ”permainan”.

Ibu Guru menyuruh tiap muridnya membawa kantong plastik transparan 1 buah dan kentang. Masing-masing kentang tersebut diberi nama berdasarkan nama orang yang dibenci, sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan berapa...tergantung jumlah orang-orang yang dibenci.

Pada hari yang disepakati masing-masing murid membawa kentang dalam kantong plastik. Ada yang berjumlah 2, ada yang 3, bahkan ada yang 5. Seperti perintah guru mereka tiap-tiap kentang diberi nama sesuai nama orang yang dibenci. Murid-murid harus membawa kantong plastik berisi kentang tersebut ke mana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekali pun, selama 1 minggu.

Hari berganti hari, kentang-kentang pun mulai membusuk, murid-murid mulai mengeluh, apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain berat, baunya juga tidak sedap. Setelah 1 minggu murid-murid TK tersebut merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir.

Ibu Guru, “Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1 minggu?”

Keluarlah keluhan dari murid-murid TK tersebut, pada umumnya mereka tidak merasa nyaman harus membawa kentang-kentang busuk tersebut ke mana pun mereka pergi.

Guru pun menjelaskan apa arti dari “permainan” yang mereka lakukan.

Ibu Guru, “Seperti itulah  yang selalu kita bawa-bawa apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain. Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk ke mana pun kita pergi. Itu hanya 1 minggu. Bagaimana jika kita membawanya  seumur hidup? Alangkah tidak nyamannya...”

_____
(surat elektronik | anonim)

Jumat, 01 November 2013

Teladan Perkawinan

Ayah dan ibu sudah menikah 30 tahun dan Michael tidak pernah melihat mereka bertengkar. Bagi Michael, perkawinan ayah dan ibu menjadi teladan baginya.

Setelah menikah, dia dan istrinya sering bertengkar karena hal-hal kecil. Ketika pulang ke rumah ayahnya, Michael menuturkan keluhannya pada ayahnya. Ayahnya mendengarkan kemudian masuk, keluar dengan mengusung buku-buku dan ditumpuknya di depan Michael. Sebagian buku sudah kuning, kelihatannya sudah disimpan lama. dengan penuh rasa ingin tahu Michael mengambil satu buku itu. Tulisannya benar tulisan ayahnya, agak miring dan aneh, ada yang jelas, ada yang semrawut, bahkan ada yang tulisannya sampai menembusi beberapa halaman. Michael membaca halaman-halaman buku itu.

Semuanya merupakan catatan hal-hal sepele, “Suhu udara berubah jadi dingin, ia mulai merajut baju wol untukku. Anak-anak berisik, untung ada dia.” Semua itu catatan kebaikan dan cinta ibu kepada ayah, cinta ibu kepada anak-anak dan keluarga.

Matanya berlinang air mata. Michael mengangkat kepala, dengan haru dia berkata pada ayahnya, “Ayah, saya sangat kagum pada ayah dan ibu.”
Ayahnya berkata, “Tidak perlu kagum, kamu juga bisa.”

Ayah berkata lagi, “Menjadi suami istri selama puluhan tahun, tidak mungkin menghindari pertengkaran. Ibumu kalau kesal, suka cari gara-gara, melampiaskan kemarahannya dan mengomel. dalam buku aku tuliskan yang telah ibumu lakukan demi rumah tangga ini. Seringkali hatiku penuh amarah waktu menulis, kertasnya sampai sobek, tembus oleh pen. Tapi aku terus menulis semua kebaikannya. Aku renungkan, akhirnya emosi itu lenyap, yang tinggal semuanya kebaikan ibumu.”

Michael mendengarkan, lalu bertanya, “Ayah, apakah ibu pernah melihat catatan ini?”

Ayah tertawa dan berkata, “Ibumu juga memiliki buku. Bukunya berisi kebaikan diriku. Sering kami saling bertukar buku dan saling menertawakan. Ha...ha...ha...”

Tiba-tiba Michael sadar akan rahasia pernikahan, “Mencintai itu sangat sederhana, ingat dan catat kebaikan pasangan. Lupakan segala kesalahannya.”

_____
(surat elektronik | anonim)