Selasa, 26 Mei 2015

Wejangan Almarhum Bob Sadino


Membawa selusin bodyguard bukan jaminan keamanan.
Tapi, rendah hati, ramah, dan tidak mencari musuh, itulah kunci keamanan.

Obat dan vitamin bukan jaminan hidup sehat.
Jaga lisan berucap, jaga hati, istirahat cukup, makanan gizi seimbang, dan olahraga yang teratur itulah kunci hidup sehat.

Rumah mewah bukan jaminan keluarga bahagia.
Saling mengasihi, menghormati, dan memaafkan, itulah kunci keluarga bahagia.

Gaji tinggi bukan jaminan kepuasan hidup.
Bersyukur, berbagi, dan saling menyayangi itulah kunci kepuasan hidup.

Kaya raya bukan jaminan hidup terhormat.
Tapi, jujur, sopan, murah hati, dan menghargai sesama itulah kunci hidup terhormat.

Hidup berfoya-foya bukan jaminan banyak sahabat.
Tapi, setia-kawan, bijaksana, menghargai, menerima teman apa adanya, dan suka menolong itulah kunci banyak sahabat.

Kosmetik bukan jaminan kecantikan.
Tapi, semangat, kasih, ceria, ramah, dan senyuman itulah kunci kecantikan.

Satpam dan tembok rumah yang kokoh bukan jaminan hidup tenang.
Hati yang damai, kasih dan tiada kebencian itulah kunci ketenangan dan rasa aman.

Hidup kita itu sebaiknya ibarat "bulan-matahari".
Dilihat orang atau tidak, ia tetap bersinar.
Dihargai orang atau tidak, ia tetap menerangi.
Diterimakasihi atau tidak, ia tetap 'berbagi'.

Jika Anda bilang Anda susah, banyak orang yang lebih susah dari Anda, dan jika Anda bilang Anda kaya, banyak orang yang lebih kaya dari Anda.
Di atas langit masih ada langit.

Suami, istri, anak, jabatan, harta adalah titipan sementara, itulah kehidupan.
Pada akhirnya kesemua itu yang kita lakukan juga kesia-siaan.

Nikmatilah hidup selama Anda masih memilikinya dan terus belajar untuk bersyukur dengan keadaanmu!

Karena Anda tidak akan tahu, kapan Sang Pemilik Raga akan datang dan mengatakan pada Anda "Ini saatnya pulang!"

Memaksa Anda untuk meninggalkan apa pun yang Anda cintai dan yang Anda banggakan serta sombongkan!

Note: Bob Sadino meninggal setelah memberikan wejangan ini ...

_____
(surat elektronik | anonim)

Selasa, 19 Mei 2015

MENIKAH itu ...


Tolak Ukur MENIKAH itu bukan dilihat dari Sebanding atau Tidak, tapi dari Seiman atau tidak.

MENIKAH itu Bukan tentang KESIAPAN tapi tentang KEBERANIAN mem-PERTANGGUNGJAWAB-kan akad di hadapan Allah

MENIKAH itu seperti BERENANG, Tak Cukup Teori untuk menguasai. Mencebur kedalamnyalah yang akan Mengajarkan kita untuk tidak tenggelam dalam Kehidupan.


MENIKAH itu bukan semata-mata tentang CINTA dan RASA, tapi tentang KEIMANAN dan KESETIAAN pada ajaran dan anjuran Tuhan.

MENIKAH itu = menyusun PUZLE Kehidupan, Sering Butuh Pihak Ketiga untuk "klop"-kan 'PUZZLE' dalam sebuah PERJODOHAN.

MENIKAH itu meng-KAYA-kan. Bila KEUANGAN jadi alasan menunda Nikah, maka tak ada alasan untuk dia jadi KAYA.

MENIKAH itu MUDAH karena Allah itu Maha Memudahkan ... Kecuali kita sendiri yang MEMPERSULIT dengan Alasan BERBELIT-BELIT kayak si PELIT.

SUBHANA ALLAH ...

Semoga ALLAH Perkenankan yang belum punya jodoh, segera mendapat jodoh dan menikah ....

••ﺍﻣﻴﻦ ﻳﺎﺍﻟﻠﻪ ﻳﺎﺭﺏ ﺍﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ••

#just share

_____
(surat elektronik | anonim)

Jumat, 15 Mei 2015

Mencapai Kesuksesan

Kenapa banyak orang yang sukses di sekolah, tetapi tidak sukses dalam karier atau kehidupan bermasyarakat?

Karena mereka terlalu idealis, tidak bisa atau tidak mau menyesuaikan diri dengan kenyataan, tidak bisa bersifat realistis.

Keahlian bisa dicapai oleh siapa saja yang mau melakukan latihan secara terus-menerus dan tidak cepat menyerah.

Bakat hanyalah salah satu modal, tetapi latihanlah yang menyempurnakannya.

Ingat!

Tanpa latihan, mereka yang berbakat pun tidak akan bisa berprestasi. Latihan yang dimaksud tidak hanya latihan fisik, tetapi juga cara berpikir.

Orang yang selalu berpikir positif dan berkeinginan untuk sukses cenderung memiliki peluang sukses lebih besar daripada yang selalu berpikir negatif dan tidak pernah berpikir tentang kesuksesan.

Untuk mencapai kesuksesan orang harus berani mengorbankan segala kesenangan, teguh dalam tekad, memegang teguh janji dan perkataan, berfokus pada tujuan, dan tidak mudah tergoda.

Pepatah Tiongkok mengatakan, "Selama kita memiliki keteguhan, keuletan, dan keyakinan diri, batang besi pun dapat diasah menjadi jarum."

"Salam Sukses" O:)

_____
(surat elektronik | anonim)

Selasa, 05 Mei 2015

Bisakah Hidup Tak Berdosa Dalam 1 Jam Saja?


"RENUNGAN SIANG" menjelang zuhur, HANYA 1 JAM SAJA …

Suatu hari seorang anak kecil datang kepada ayahnya dan bertanya, “Apakah kita bisa hidup tidak berdosa selama hidup kita?”

Ayahnya memandang kepada anak kecil itu dan berkata, “Tidak, nak.”

Anak kecil ini kemudian memandang ayahnya dan berkata lagi, “Apakah kita bisa hidup tanpa berdosa dalam setahun?”

Ayahnya kembali menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kepada putranya.

“Oh ayah bagaimana kalau 1 bulan, apakah kita bisa hidup tanpa melakukan kesalahan?”

Ayahnya tertawa, “Mungkin tidak bisa juga nak.”

“OK ayah, ini yang terakhir kali, apakah kita bisa hidup tidak berdosa dalam 1 jam saja?”

Akhirnya ayahnya mengangguk, “Kemungkinan besar bisa nak dan jika kita memang bersungguh-sungguh, insya Allah akan ada kemampuan kepada kita untuk melakukannya.”

Anak ini tersenyum lega.

“Jika demikian, aku akan hidup benar dari jam ke jam, ayah.  Lebih mudah menjalaninya dan aku akan menjaganya dari jam ke jam, sehingga aku dapat hidup dengan benar ….”

Pernyataan ini mengandung kebenaran sejati.

Marilah kita hidup dari waktu ke waktu, dengan memperhatikan cara kita menjalani hidup ini.

Dari latihan yang paling kecil dan sederhana sekali pun, akan menjadikan kita terbiasa, dan apa yang sudah biasa kita lakukan akan menjadi sifat, dan sifat akan berubah jadi karakter, dan karakter akan menjadi destiny ….

Hiduplah 1 jam TANPA …
tanpa kemarahan,
tanpa hati yang jahat,
tanpa pikiran negatif,
tanpa menjelekkan orang,
tanpa keserakahan,
tanpa pemborosan,
tanpa kesombongan,
tanpa kebohongan,
tanpa kepalsuan …
Lalu ulangi lagi untuk
1 jam berikutnya …
1 jam berikutnya lagi …
1 jam berikutnya lagi … dan terus-menerus.

Hiduplah 1 jam DENGAN ....
dengan kasih,
dengan sukacita,
dengan kesabaran,
dengan kelemahlembutan,
dengan kemurahan hati,
dengan kerendahan hati,
dengan penguasaan diri,
dengan ketekunan,
dengan tawakal,
dan ulangilah untuk
1 jam berikutnya,
1 jam berikutnya lagi.

Subhanallah ...

_____
(surat elektronik | anonim)