Tan Malaka Pejuang yang Terlupakan?

Sehari di kampung, saya sempatkan singgah ke rumah masa kecil Tan Malaka. Matahari bersinar lembut, menembus sela-sela awan tipis ketika kendaraan saya menyusuri Jalan Tan Malakajalan provinsi terpanjang di Sumatra Barat, membentang lurus sepanjang lima puluh kilometer dari Payakumbuh hingga Nagari Pandam Gadang, Gunung Omeh. Di ujung jalan itu, di perbukitan yang tenang, berdiri rumah adat Minangkabau dengan lima gonjong berlapis seng. Rumah sederhana, tetapi di situlah lahir seorang anak Minang yang kelak menulis cita-cita Republik jauh sebelum republik itu ada. 

Rumah Kelahiran Tan Malaka | @wikipedia

Saya terdiam lama di depan rumah itu. Inilah tempat Ibrahim Datuk Tan Malaka dilahirkan. Dialah penulis buku Naar de Republiek Indonesia (1925), yang kelak menjadi inspirasi Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan kawan-kawan. Ironis, banyak orang Minang sendiri tak lagi akrab dengan namanya.

Istri saya yang menemani, memecah keheningan.
“Hebatnya apa sih orang ini? Katanya dia komunis?” tanyanya polos.

Saya tersenyum. “Kalau komunis itu dimaknai anti-Tuhan, jelas bukan. Tan Malaka sejak remaja sudah fasih berbahasa Arab, hafal Al-Qur’an, dan menguasai tafsirnya. Dia bukan sekadar pintar, Mah. Dia jenius.”

Tan Malaka Pahlawan Nasional | @grupwa

Ia memang jenius. Dari Kweekschool Bukittinggi, ia melangkah ke Haarlem, Belanda, tahun 1912. Di sana ia menonjol dalam ilmu pasti, tetapi hatinya terhanyut oleh wacana politik Eropa: Revolusi Rusia, perdebatan Sneevliet-Suwardi, dan pikiran Marx-Engels. Namun di tengah pusaran itu, ruh Islam tetap hidup dalam dirinya.

“Jadi benar dia komunis?” istri saya masih bertanya.

“Tidak sesederhana itu. Ia hanya memakai lensa Marxis untuk membela kaum tertindas. Tetapi imannya tetap teguh.” jawab saya.

Di sela belajar, Tan Malaka menyimpan luka batin: cintanya pada Syarifah, teman sekolah di Bukittinggi, tak restu orang tua. Hubungan mereka berlanjut lewat surat penuh rindu. Namun waktu memisahkan: Syarifah akhirnya menikah dengan Bupati Cianjur. Tan Malaka mengalah pada realita, seperti ia sering mengalah pada takdir.

Perjalanan hidupnya bagai roman yang tak selesai. Di Belanda ia dekat dengan Fenny Struijvenberg, tetapi terputus oleh panggilan ideologi ke Moskwa. Di Manila ia jatuh hati pada putri tokoh universitas, tetapi ditangkap intel Amerika. Di Xiamen ia bertemu gadis Amoy berusia 17 tahun, tetapi harus pergi lagi. Di Singapura ia bersembunyi dengan nama Hasan Gozali. Dan ketika akhirnya pulang ke Indonesia 1942, ia menulis Madilogkarya besar tentang materialisme, dialektika, dan logika, yang hingga kini tetap relevan.

Namun cinta sejatinya tetap Syarifah. Bahkan ketika Syarifah menjanda dengan lima anak, ia sempat meminang lagi. Tetapi ditolak. Cintanya pada perempuan berakhir seperti cintanya pada tanah air: tak sampai, tertikam oleh takdir.

Setelah proklamasi 1945, Tan Malaka menolak jalan kompromi. Ia mendirikan Front bersama Soedirman, menolak perjanjian Linggarjati yang hanya memberi pengakuan setengah hati. Ia memilih revolusi total. Dari Purwokerto ia membakar semangat rakyat, dari hutan Soedirman memimpin gerilya. Ia jadi duri dalam daging bagi elit diplomasi. Pada akhirnya, ia ditangkap dan ditembak mati pada Februari 1949. Ironis, seorang pejuang yang menulis “menuju republik” justru dieksekusi oleh tentara republik. 

Istri saya mendesah panjang.
“Kasihan. Hebat, tetapi cintanya kandas semua. Kenapa tidak perjuangkan satu saja?”

Saya menggeleng. 

“Tan Malaka tidak pernah benar-benar jatuh cinta kepada siapa pun selain Syarifah. Dan ia hanya benar-benar setia kepada satu hal: Indonesia. Cintanya kepada manusia kandas, cintanya kepada tanah air berujung peluru, tetapi cintanya kepada Tuhan tetap utuh.”


Kami terdiam. Perjalanan kembali ke Maninjau terasa muram. Dari balik kaca mobil, istri saya berkata lirih:

“Sepuluh tokoh besar pendiri republik ini, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Agus Salim, Yamin, Natsir, Abdul Rivai, Chaerul Saleh, Samaun Bakri, Rasuna Said—semuanya putra-putri Minang. Mereka berjuang hingga ke luar negeri. Tetapi cucu Papa, justru merantau ke luar negeri demi bertahan hidup. Tragis ya, Pah … buah kemerdekaan yang diperjuangkan mereka.”

Saya tercekat. Mungkin benar, kemerdekaan ini hanya mengganti bendera, tetapi sistem kolonial tetap bercokol dalam rupa baru: utang, ketimpangan, dan kekuasaan oligarki. 

Dan di rumah Tan Malaka yang sunyi itu, saya sadar: kemerdekaan sejati bukan sekadar bebas dari penjajah, tetapi berani berpikir merdekaseperti Tan Malaka pernah ajarkan. 


*Tulisan Babo Erizeli Jely Bandaro di Grup DDB

._
@gw, 19082025

Posting Komentar

0 Komentar