Sabtu, 10 November 2018

Buat Ibu-Ibu/Bapak-Bapak yang Galak

Pesan Ibu Elly Risman
Senior Psikolog UI, Konsultan Parenting Nasional

Inilah pesan untuk para orangtua:

Kalau Anda dititipi anak Presiden, kira-kira bagaimana mengasuh dan menjaganya?

Beranikah Anda membentaknya sekali saja?
Pasti enggak, kan?

Nah, yang sekarang menitip bukan Presiden, tapi yang jauh lebih berkuasa dari Presiden, yaitu Allah.

Beranikah Anda membentak, memarahi, mencubit, menyentil, bahkan memukul?

Jika Anda pernah melakukannya, kira-kira nanti di hari akhir, apa yang Anda jawab ketika ditanya Pemiliknya?

Jiwa anakmu lebih mahal dari susu termahal yang ditumpahkannya.
Jaga lisanmu, duhai orangtua.
Jangan pernah engkau memarahi anakmu hanya gara-gara ia menumpahkan susunya atau karena ia melakukan hal yang menurutmu salah.

Anakmu tidak tahu kalau apa yang ia lakukan adalah kesalahan.
Otaknya belum mempunyai konsep itu.

Jaga Jiwa Anakmu.
Lihatlah tatapan mata anakmu yang tidak berdosa itu ketika engkau marah-marah.
Ia diam dan mencoba mencerna apa yang engkau katakan.
Apakah ia mengerti?

Mungkin iya, tapi cobalah perhatikan apa yang ia lakukan. setelah engkau pukul dan engkau marahi.
Anakmu tetap memelukmu, masih ingin engkau belai.
Bukankah inilah tanda si anak memaafkanmu?

Namun, jika engkau terus-menerus mengumbar kata-kata kasarmu kepadanya, otak anakmu akan merekamnya dan akhirnya, cadangan ‘maaf’ di otaknya hilang.

Apa yang akan terjadi selanjutnya, duhai orangtua?
Anakmu akan tumbuh menjadi anak yang ‘ganas’ dan ia pun akan membencimu sedikit demi sedikit hingga tidak tahan hidup bersamamu.

Jiwa anak yang terluka itu akan mendendam.
Pernahkah engkau saksikan anak-anak yang ‘malas’ merawat orangtuanya ketika tua?
Jangan salahkan anak-anaknya.
Cobalah memahami apa yang sudah dilakukan oleh orangtua itu kepada anak-anaknya ketika mereka masih kecil.

Orangtua ..., anakmu itu bukan kaset yang bisa kau rekam untuk kata-kata kasarmu.

Bersabarlah.

Jagalah kata-katamu agar anak hanya tahu bahwa ayah ibunya adalah contoh yang baik, yang bisa menahan amarahnya.

Duhai orangtua, engkau pasti kesal kalau anakmu nakal.

Tapi pernahkan engkau berpikir bahwa kenakalannya mungkin adalah efek rusaknya jiwa anakmu karena kesalahanmu ....
Kau pukul & kau cubit anakmu hanya karena melakukan hal-hal sepele.
Kau hina dina anakmu hanya karena ia tidak mau melakukan hal-hal yang engkau perintahkan.

Cobalah duduk dan merenungi apa saja yang telah engkau lakukan kepada anakmu.
Apakah engkau lebih sayang pada susu paling mahal yang tertumpah?
Anakmu pasti menyadari dan tahu ketika kemarahan itu selalu hadir di depan matanya.
Jiwanya pun menjadi memerah bagai bara api.
Apa yang mungkin terjadi ketika jiwa anak sudah terusik?

Anak tidak hormat pada orangtua.
Anak menjadi musuh orangtua.
Anak menjadi sumber kekesalan orangtua.
Anak tidak bermimpi hidup bersama dengan orangtua.
Hal-hal inikah yang engkau inginkan, duhai orangtua?

Ingatlah, jiwa anakmu lebih mahal dari apa pun termahal yang ada di dunia.
Jaga lisan dan perlakukanmu kepada anakmu.

πŸ‘ΆπŸ‘¦πŸ‘§πŸ‘ΆπŸ‘¦πŸ‘§πŸ‘ΆπŸ‘¦πŸ‘§

Untuk saya dan bapak ibu semua.

Share buat para orang tua ... ☺πŸ™

_____
(surat elektronik | anonim) 

Sabtu, 03 November 2018

Apanya yang Harus Kita Sombongkan?

    Mengutip ucapan Benar Gus Mus
πŸ’Ž APANYA YANG HARUS KITA SOMBONGKAN πŸ’Ž

Lahir: ditolong oleh Orang Lain.

Nama: diberi oleh Orang Lain.

Pendidikan: didapat dari Orang Lain.

Gaji: diterima dari Orang Lain.

Kehormatan: diberikan oleh Orang Lain.

Mandi pertama: dilakukan oleh Orang Lain.

Mandi terakhir: dilakukan oleh Orang Lain.

Harta setelah meninggal: menjadi hak Orang Lain.

Pemakaman: dilakukan oleh Orang Lain.

Ternyata sejak lahir hingga meninggal kita selalu membutuhkan Orang Lain.

Kita mulai sadar bahwa hidup ini membutuhkan orang lain:
DI MANA KEHEBATAN KITA?

Ternyata, kita bukanlah siapa-siapa tanpa ORANG LAIN.

Bersahabatlah dengan semua orang & tidak lekang waktu karena kita tidak tahu kapan kita membutuhkan bantuan mereka.

Semoga selalu kita lebih menghargai nilai persahabatan dalam hidup.

_______
@grupwa, 02082017

Sabtu, 27 Oktober 2018

Prinsip 90/10 Stephen J. Covey

Bagaimana prinsip 90/10 itu?
  • 10% dari hidup kita terjadi karena apa yang langsung kita alami.
  • 90% dari hidup kita ditentukan dari cara kita bereaksi.

Apa maksudnya?
Anda tidak dapat mengendalikan 10% dari kondisi yang terjadi pada diri Anda.

Contoh kasus:
 

Kasus 1

Anda makan pagi dengan keluarga Anda. Anak Anda secara tak sengaja menyenggol cangkir kopi minuman Anda sehingga pakaian kerja Anda tersiram. Anda tidak dapat mengendalikan apa yang baru saja terjadi.

Reaksi Anda
Anda bentak anak Anda karena telah menjatuhkan kopi ke pakaian Anda. Anak Anda akhirnya menangis. Setelah membentak, Anda menoleh ke istri Anda & mengkritik karena telah menaruh cangkir pada posisi terlalu pinggir di ujung meja.
 
Akhirnya terjadi pertengkaran mulut. Anda lari ke kamar & cepat-cepat ganti baju. Kembali ke ruang makan, anak Anda masih menangis sambil menghabiskan makan paginya.

Akhirnya (1) anak Anda ketinggalan bis. (2) Istri Anda harus secepatnya pergi kerja. (3) Anda buru-buru ke mobil & mengantar anak Anda ke sekolah. Karena Anda telat, Anda laju mobil dengan kecepatan 70 km/jam, padahal batas kecepatan hanya boleh 60 km/jam.

Setelah terlambat 15 menit & terpaksa mengeluarkan kocek Rp600.000,00 karena melanggar lalu lintas, akhirnya Anda juga sampai di sekolah. Anak Anda secepatnya keluar dari mobil tanpa pamit.
 
Setiba di kantor Anda telat 20 menit, Anda baru ingat kalau tas Anda tertinggal di rumah.
 
Hari kerja Anda dimulai dengan situasi buruk Jika diteruskan maka akan semakin buruk. Pikiran Anda terganggu karena kondisi di rumah.  Saat tiba di rumah, Anda menjumpai beberapa gangguan hubungan dengan istri & anak Anda.
 
Mengapa? Karena cara Anda bereaksi pada pagi hari

Mengapa Anda mengalami hari yang buruk?

1. Apakah penyebabnya karena kejatuhan kopi?
2. Apakah penyebabnya karena anak Anda?
3. Apakah penyebabnya karena polisi lalu lintas?
4. Apakah Anda penyebabnya?

Jawabannya adalah No. 4 yaitu Anda sendiri!

Anda tidak dapat mengendalikan diri setelah apa yang terjadi pada cangkir kopi yang tumpah. Cara Anda bereaksi dalam 5 detik itu yang menentukan.


Kasus 2

Cairan kopi menyiram baju Anda. Begitu anak Anda akan menangis, Anda berkata lembut:  Tidak apa-apa sayang, lain kali hati-hati ya.

Anda ambil handuk kecil & lari ke kamar. Setelah mengganti pakaian & mengambil tas, secepatnya Anda menuju jendela ruang depan & melihat anak Anda sedang naik bis sambil melambaikan tangan ke Anda.

Anda kemudian mengecup lembut pipi istri Anda & mengatakan:
Sampai jumpa makan malam nanti.

Anda datang ke kantor 5 menit lebih cepat & dengan muka cerah menyapa staf Anda. Bos Anda mengomentari semangat & kecerahan hari Anda di kantor.



Apakah Anda melihat perbedaan dua kondisi tersebut?

Dua skenario berbeda, dimulai dengan kondisi yang sama, diakhiri dengan kondisi berbeda.

Mengapa?

Ternyata penyebabnya adalah dari cara Anda bereaksi!  Anda tidak dapat mengendalikan 10% dari yang sudah terjadi yang 90% adalah akibat dari reaksi Anda sendiri.

Sekarang Anda sudah tahu prinsip 90/10 Gunakanlah dalam aktivitas harian Anda & Anda akan kagum atas hasilnya. Tidak ada yang hilang & hasilnya sangat menakjubkan ... πŸ˜‡

_____
(surat elektronik | anonim) 

Sabtu, 20 Oktober 2018

Suatu Saat Kita Akan Meninggalkan Mereka Jangan Mainkan Semua Peran

Oleh: Elly Risman
(Senior Psikolog dan Konsultan, UI)

Kita tidak pernah tahu, anak kita akan terlempar ke bagian bumi yang mana nanti, maka izinkanlah dia belajar menyelesaikan masalahnya sendiri.

Jangan memainkan semua peran,
ya jadi ibu,
ya jadi koki,
ya jadi tukang cuci.

ya jadi ayah,
ya jadi supir,
ya jadi tukang ledeng,

Anda bukan anggota tim SAR!
Anak Anda tidak dalam keadaan bahaya.
Tidak ada sinyal S.O.S!
Jangan selalu memaksa untuk membantu dan memperbaiki semuanya.

#Anak mengeluh karena mainan puzzle-nya tidak bisa nyambung menjadi satu, "Sini ... Ayah bantu!"

#Tutup botol minum sedikit susah dibuka, "Sini ... Mama saja."

#Tali sepatu sulit diikat, "Sini ... Ayah ikatkan."

#Kecipratan sedikit minyak
"Sudah sini, Mama aja yang masak."

Kapan anaknya bisa?

Kalau bala bantuan muncul tanpa adanya bencana,
Apa yang terjadi ketika bencana benar-benar datang?

Berikan anak-anak kesempatan untuk menemukan solusi mereka sendiri.

Kemampuan menangani stres,
Menyelesaikan masalah,
dan mencari solusi,
merupakan keterampilan/skill yang wajib dimiliki.

Dan skill ini harus dilatih untuk bisa terampil,
Skill ini tidak akan muncul begitu saja hanya dengan simsalabim!

Kemampuan menyelesaikan masalah dan bertahan dalam kesulitan tanpa menyerah bisa berdampak sampai puluhan tahun ke depan.

Bukan saja bisa membuat seseorang lulus sekolah tinggi,
tapi juga lulus melewati ujian badai pernikahan dan kehidupannya kelak.

Tampaknya sepele sekarang ...
Secara apalah salahnya kita bantu anak?

Tapi jika Anda segera bergegas menyelamatkannya dari segala kesulitan, dia akan menjadi ringkih dan mudah layu.

Sakit sedikit, mengeluh.
Berantem sedikit, minta cerai.
Masalah sedikit, jadi gila.

Jika Anda menghabiskan banyak waktu, perhatian, dan uang untuk IQ-nya, maka habiskan pula hal yang sama untuk AQ-nya.

AQ?
Apa itu?
ADVERSITY QUOTIENT

Menurut Paul G. Stoltz,
AQ adalah kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami.

Bukankah kecerdasan ini lebih penting daripada IQ, untuk menghadapi masalah sehari-hari?

Perasaan mampu melewati ujian itu luar biasa nikmatnya.
Bisa menyelesaikan masalah, mulai dari hal yang sederhana sampai yang sulit, membuat diri semakin percaya bahwa meminta tolong hanya dilakukan ketika kita benar-benar tidak sanggup lagi.

So, izinkanlah anak Anda melewati kesulitan hidup ...

Tidak masalah anak mengalami sedikit luka,
sedikit menangis,
sedikit kecewa,
sedikit telat,
dan sedikit kehujanan.

Tahan lidah, tangan dan hati dari memberikan bantuan.
Ajari mereka menangani frustrasi.

Kalau Anda selalu jadi ibu peri atau guardian angel,
Apa yang terjadi jika Anda tidak bernapas lagi esok hari?

Bisa-bisa anak Anda ikut mati.

Sulit memang untuk tidak mengintervensi,
Ketika melihat anak sendiri susah, sakit, dan sedih.

Apalagi menjadi orangtua, insting pertama adalah melindungi,
Jadi melatih AQ ini adalah ujian kita sendiri juga sebagai orangtua.

Tapi sadarilah,
hidup tidaklah mudah,
masalah akan selalu ada.
Dan mereka harus bisa bertahan.
Melewati hujan, badai, dan kesulitan,
yang kadang tidak bisa dihindari.

Selamat berjuang untuk mencetak pribadi yang kokoh dan mandiri ....

_____
(surat elektronik | anonim)

Sabtu, 13 Oktober 2018

Perjuangan Melawan Kanker

TIJN, tahun 2016 lalu berusia 5 tahun merasa tidak enak badan dan mual.
Suhu badannya naik sampai 41 derajat.

Setelah berobat ke dokter dan RS, TIJN di-vonnis menderita kanker ganas di otaknya. Dokter mengatakan bahwa chemo bisa dilakukan untuk memperpanjang usianya 1 atau 2 tahun. Orang tua Tijn tentu saja sangat sedih. Si pasien sendiri tetap ceria.

Pada saat chemo yang pertama di RS dia bertanya pada dokternya "berapa banyak anak yang menderita kanker seperti dirinya"
"Iya, kata dokter. Di seluruh dunia banyak anak-anak kecil yang menderita seperti Tijn, tetapi tidak semua anak bisa ke dokter."
Dokter menjelaskan bahwa tidak setiap anak mempunyai orang tua kaya. Di negara-negara miskin banyak dari mereka yang menderita menunggu sampai waktu kematiannya tiba.

Setibanya di rumah Tijn bilang kepada orangtuanya, "Papa, saya harus bekerja mencari uang untuk dapat membantu anak-anak yang sakit kanker otak tetapi tidak punya uang."

Papa Tijn tertawa haru dan tidak menggubris ucapannya.

Besoknya Tijn ke sekolah dengan membawa  cat kuku  ibunya. Di kelas dia berusaha mencari dana dengan cara mengecat kuku teman-temannya dengan upah €1 (Rp15.000,00). Ternyata teman-teman menyukai aksi ini. Esoknya teman-teman di kelas lain juga minta dicat kuku-kukunya.

Singkat kata. Usahanya mengumpulkan dana membuatnya makin terkenal dan banyak pelanggan, orangtuanya menjadi terharu.

Suatu hari orangtua Tijn  membuat rumah kaca di depan rumahnya. (Karena banyak yang datang ke rumah  sedangkan rumah orang tuanya tidak besar). Di rumah kaca ini sepulang sekolah Tijn mengecat kuku teman-temannya.

Sebuah stasiun TV terkenal di Belanda mendengar aksi ini dan memberitakannya. Sehingga berdatangan orang-orang dari berbagai penjuru kota untuk menyumbang uang.

Tetapi jangan lupa Thijn baru berusia 5 tahun dan sedang sakit. Donatur banyak dari kalangan artis dan pejabat, Karena mereka tahu kondisi Tijn kurang sehat, mereka  bilang, "Tijn cat 1 jari saja ya, nak. Ini uang €100."

Bulan berganti bulan. Dari tahun 2016 sampai bulan Mei 2017 jumlah uang yang terkumpul sudah sekitar €2.800.000 × Rp15.000,00

Semua uang tersebut telah diserahkan ke PALANG MERAH BELANDA.

Sesuai dengan keinginan Tijn: UANG INI SEMUANYA HARUS DIBERIKAN KE ANAK-ANAK MISKIN DI SELURUH DUNIA YANG MENDERITA KANKER OTAK.

Pada pagi tanggal 8 Juli 2017,  Tijn  yang saat itu berusia 6 tahun, meninggal dunia di rumahnya.

_______
@grupwa, 24072017