Senin, 13 November 2017

Dibalik Ketidaktahuan


⛵ Nabi NUH belum tahu Banjir akan datang ketika ia membuat Kapal dan ditertawai Kaumnya.

🐏 Nabi IBRAHIM belum tahu akan tersedia Domba ketika Pisau nyaris memenggal Buah hatinya.

🎋 Nabi MUSA belum tahu Laut terbelah saat dia diperintah memukulkan tongkatnya.

💝 yang Mereka Tahu adalah bahwa Mereka harus Patuh pada Perintah ALLAH dan tanpa berhenti Berharap yang Terbaik...

💝 Ternyata dibalik KETIDAKTAHUAN kita, ALLAH telah menyiapkan Kejutan!

💝 SERINGKALI Allah Berkehendak didetik-detik terakhir dalam pengharapan dan ketaatan hamba-hamba-NYA.

💝 Jangan kita berkecil hati saat sepertinya belum ada jawaban doa ...
Karena kadang Allah mencintai kita dengan cara-cara yang kita tidak duga dan kita tidak suka ...

💝 Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita Inginkan!!

💝 Lakukan bagianmu saja, dan biarkan Allah akan mengerjakan bagian-NYA ...

Tetaplah Percaya.
Tetaplah Berdoa.
Tetaplah Setia.
Tetaplah meraih Rida-NYA. Aamiin ...

Tetap semangat meski dalam kesederhanaan 😘
Salam Bahagia dan selalu tersenyum ...😊

_____
(surat elektronik | anonim)

Sabtu, 28 Oktober 2017

Bung Karno Bangkit dari Kubur

Mimpi agak aneh ini malam

Bung Karno Bangkit dari Kubur ...

Dia haus ingin minum.
Kusuguhkan air mineral, dia hanya bingung tak mau minum.
Karena tanah airnya tinggal tanah, sedangkan airnya milik Perancis.

Kuseduhkan segelas teh celup, dia hanya termenung tak mau minum.
Karena kebun tehnya tinggal kebun, lahan tebunya tinggal lahan.
Gulanya milik Malaysia, tehnya Inggris yang punya

Lalu kubukakan susu kaleng, bung Karno hanya menggeleng.
Kandang sapinya tinggal kandang, sedang sapinya milik Selandia, diperah Swiss dan Belanda.

Bung Karno bangkit dari kubur, dia lapar ingin sarapan.
Kuhidangkan nasi putih, dia tak mau makan hanya bersedih.
Karena sawahnya tinggal sawah, lumbung padinya tinggal lumbung.
Padinya milik Vietnam, berasnya milik Thailand.

Kusulutkan sebatang rokok, dia menggeleng tak mau merokok.
Tembakau memang miliknya, cengkehnya dari kebunnya.
Tapi pabriknya milik Amerika.

Bung Karno bingung bertanya-tanya seperti ini:
"Sabun, pasta gigi kenapa Inggris yang punya dan toko-toko milik Perancis dan Malaysia? Alat komunikasi punya Qatar dan Singapura, mesin dan perabotan rumah tangga kenapa dikuasai Jepang, Korea, dan Cina?"

Bung Karno tersungkur ke tanah, hatinya sakit teriris-iris, setelah tahu emasnya dikeruk habis, setelah tahu minyaknya dirampok iblis.

Bung Karno menangis darah, Indonesia kembali terjajah, Indonesia telah melupakan sejarah.

_____
(surat elektronik | anonim | 08.06.2017)

Jumat, 13 Oktober 2017

Muazin Gila...!!!

Suasana sebuah kampung tiba-tiba heboh, karena pada saat pukul 22.00 terdengar azan berkumandang dari sebuah musala setempat melalui pengeras suara yang memecah keheningan malam.

Warga berbondong-bondong mendatangi musala itu meski mereka sudah tahu siapa yang melakukannya ... Mbah Sadi, suaranya sudah dikenal di kampung itu, umurnya sudah mencapai kepala tujuh.

Warga dipenuhi pertanyaan, mengapa Mbah Sadi azan pada pukul sepuluh malam ...??

Ketika warga sampai di pintu musala, Mbah Sadi baru selesai azan dan mematikan sound system.

“Mbah tahu tidak, pukul berapa sekarang?” tanya Pak RT.
“Azan apa pukul segini, Mbah..??”
“Jangan-jangan Mbah sudah ikut aliran sesat,” sambar Roso dengan nada prihatin.
"Sekarang banyak betul aliran macam-macam.
“Ah, dasar Mbah Sadi sudah gila".
“Kalau enggak gila, mana mungkin azan pukul segini?”

“Kalian ini ...,” jawab Mbah Sadi tenang. “Tadi, waktu saya azan Isya, tidak seorang pun yang datang ke musala. Sekarang saya azan pukul 10 malam, kalian malah berbondong-bondong ke musala. Satu kampung lagi ...!!! Kalau begitu ... SIAPA YANG GILA ...???”

Warga pun pulang satu persatu tanpa protes lagi. Termasuk Pak RT yang kemudian menjauh perlahan-lahan, tak berani melihat wajah Mbah Sadi.

Mawas diri ... dipanggil dan diingatkan yang baik-baik kadang-kadang kita tidak mau mendengarkan.

Tetapi begitu ada kesempatan membodoh-bodohkan dan memarahi orang, kita menyempatkan diri ...

Astagfirullah al'adziim


_____
(surat elektronik | dikirim oleh Rendra @catfiz, 12.06.2017)

Jumat, 06 Oktober 2017

Cerita Romantis

Sepatutnya bagi seorang suami untuk memberikan perhatian kepada istrinya karena di balik kekurangannya, terdapat kelebihan yang pantas untuk disyukuri. Seperti halnya dalam sebuah kisah berikut ini di mana sang suami yang pemarah baru menyesali perbuatannya setelah melihat sandal istrinya.

Berikut kisah yang bisa menjadikan kita pribadi yang lebih bersyukur dan menghargai pasangan hidup.

Sore hari itu rasa lapar yang sudah terasa sejak pulang dari kantor mendadak hilang. Bukan karena kenyang, melainkan karena rasa jengkel dan kesal yang menghinggapi kepala.

Betapa tidak, di saat perut telah keroncongan, kudapati masakan istri tidak sedikit pun memuaskan. Sayur sop yang kuharapkan bisa nikmat disantap bersama nasi, justru begitu manis layaknya kolak pisang. Menu lainnya pun rasanya sangat kacau. “Ummi, kapankah kau bisa memasak dengan benar? Selalu saja keasinan, bila tidak maka kemanisan, kepedesan, atau keasaman!” Rasanya hati ini ingin sekali membentaknya sekuat tenaga.

“Sabar bi, Rasulullah pun tetap sabar terhadap masakan Aisyah dan Khadijah. Katanya ingin mencontoh Rasul?” ucap istriku dengan tenangnya.
“Iya, tapi Abi kan manusia biasa dan belum bisa sabar seperti Rasul. Abi tak akan bisa tahan dengan masakan yang rasanya kacau seperti ini!” kataku setengah berteriak.

Setelah mendengar ucapanku, istriku pun menundukkan kepalanya dan jika sudah begitu, biasanya air matanya bakalan mengalir.

Setelah sepekan keluar kota lantaran tugas dinas dari perusahaan, aku pun pulang karena rindu dengan istri dan suasana rumah. Namun apa yang kudapati justru sebaliknya. Rumah yang dibayangkan bisa menjadi tempat istirahat yang nyaman justru malah membuatku pusing kepala. Bayangkan saja bagaimana rumah tersebut laksana kapal pecah di mana menumpuk pakaian yang belum disetrika, piring kotor berserakan dan cucian di ember yang baunya tak ketulungan lantaran sudah direndam namun belum juga dicuci.

Melihat kenyataan tersebut, aku pun hanya bisa mengurut dada sembari mengucapkan istighfar. Setelah kutemui istriku di kamarnya, aku pun berusaha meluapkan rasa kesalku. “Ummi, bagaimana Abi tidak kesal jika keadaan rumah begitu berantakan tak terurus?” ucapku. “Istri yang salihah itu tak hanya ikut pengajian saja, namun juga bisa mengurus rumah dengan baik.” Ternyata belum usai kuberbicara, istriku langsung menangis.

Kusadari memang wanita begitu mudah menangis, namun aku berusaha untuk menenangkannya. “Sudah diam Mi, tak boleh cengeng. Katanya ingin jadi istri salihah? Istri salihah gak boleh cengeng,” bujukku sembari melihat air matanya yang sudah mengalir ke pipi.“Bagaimana Ummi tidak nangis, baru pulang sudah ngomel. Rumah ini memang tak keurus lantaran Ummi tidak mampu mengerjakan apa pun. Jangankan untuk bekerja, berjalan saja Ummi susah. Belum lagi rasa mual dan muntah sehingga badan ini tidak bertenaga,” ucapnya sembari menangis. “Abi memang belum merasakan bagaimana tak enaknya mual dan pusing karena hamil muda,” tambahnya.

Beberapa hari kemudian istriku mulai pulih dari rasa mual akibat hamil muda dan memintaku untuk mengantarkan ke pengajian. “Bi, siang nanti antar Ummi ngaji ya?” pintanya. “Aduh tak bisa Mi, Abi sibuk sekali hari ini. Pergi sendiri saja ya?” “Ya sudah, Ummi naik bus saja. Semoga tidak pingsan di jalanan,” balasnya. “Loh kok berkata begitu?” “Iya kondisi Ummi yang sedang hamil muda sangat rentan jika harus mencium bau bensin. Belum lagi kondisi di dalam bus yang penuh sesak dan panas yang menyengat. Tapi mudah-mudahan sih tidak kenapa-kenapa,” tuturnya. “Ya sudah Ummi naik bajaj saja biar cepat dan tidak berdesakan,” jawabku singkat.

Ternyata pertemuan dengan klien di kantor diundur pekan mendatang sehingga jadwalku kosong. Kuputuskan memanfaatkan waktu tersebut untuk menjemput istriku di pengajian.

Entah kenapa aku begitu rindu dengan sosoknya meski menjengkelkanku selama ini.

Saat motorku sudah sampai di halaman pengajian, kudapati banyak sepatu yang berjajar pertanda pengajian masih belum selesai. Kuperhatikan semua sepatu yang ada begitu indah dan terlihat mahal. “Wanita memang suka yang indah-indah, sampai sepatu pun lucu-lucu,” ucapku dalam batin.

Namun pandanganku langsung terhenti ketika melihat sepasang sandal jepit diantara sepatu-sepatu yang bagus tersebut. “Oh, bukankah itu sandal jepit istriku?” tanya hatiku. Segera kuambil sandal tersebut yang sudah kumal lantaran sering dipakai.

Tak sadar air mataku pun menetes karena perih dalam batin. Baru kusadari ternyata aku tak pernah sedikit pun memperhatikan kondisi istriku. Bahkan ia mengenakan sandal kumal pun aku tak tahu.

Padahal teman-temannya sudah mengenakan sepatu yang bagus-bagus. Maka ketika pintu pengajian itu terbuka dan sejumlah muslimah keluar hendak pulang, kudapati istriku dengan segera karena penampilannya yang berbeda dibandingkan wanita lain lantaran mengenakan pakaian berwarna gelap dan sudah lusuh warnanya di antara wanita lain yang mengenakan baju berwarna cerah. Aku pun menyadari bahwa selama ini tak pernah membelikannya baju sepotong pun. Aku terlalu sibuk menilai kekurangannya, padahal istriku pun memiliki kelebihan yang tak mampu dilakukan wanita mana pun.

Rasanya aku tak pantas menjadi seorang suami karena terlalu sibuk mengurus orang lain. Sementara istriku tak sedikit pun kuurus. Padahal Rasul mengatakan bahwa yang terbaik diantara umatnya adalah yang paling baik terhadap keluarga.

Sementara aku, justru sering mengomel dan menuntut istri di luar kemampuannya. Sungguh aku benar-benar menjadi suami yang zalim. Aku lantas memanggil istriku yang sibuk mencari sandalnya dan terlihat ia begitu senang melihatku yang datang menjemput. Wajahnya pun begitu girang dan baru kali ini aku melihatnya dalam kondisi tersebut. Sungguh aku menyesal mengapa tidak sejak dahulu menjemputnya dari pengajian.

Ketika esok harinya, kubelikan istriku sepatu baru dan benar saja, senyum bahagianya tampak mengembang sembari berkata, “Alhamdulillah, Jazakallahu ...” Hatiku pun begitu terenyuh melihat tingkah polahnya yang sangat gembira. Rasa sesal benar-benar menyerang hatiku yang tak pernah bersyukur memiliki seorang istri yang zuhud.

Mulai detik ini ku akan berusaha untuk lebih memperhatikan kebutuhan istriku sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Ta’ala. Semoga para suami yang lain pun bisa memberikan perhatian kepada seorang istri sehingga rumah tangga yang dibangun bisa penuh dengan kasih sayang.

Amin


_____
(surat elektronik | dikirim oleh djeng er @catfiz, 12.06.2017)

Jumat, 29 September 2017

Mencari Tuhan

Kultum

Di Facebook saya mencari Tuhan. Setelah memasukkan kata “Tuhan” di kolom pencarian, muncul sebuah akun. Tapi itu bukan milik-Nya (dengan N kapital), melainkan kepunyaan sebuah band dari Turki.

Entah apa arti tuhan dalam bahasa Turki, karena di kamus online saya tak menemukannya. Kalau pun ada Tuhan di Facebook, itu adalah akun dan fanpage yang dibuat oleh para penggemar Tuhan.

Hal yang sama terjadi di Twitter. Saya gagal mencari Tuhan di dunia maya.

Mungkin Anda bertanya, kenapa saya iseng mencari Tuhan di jejaring sosial, meski semua orang waras tahu, pencarian itu akan gagal. Keisengan itu muncul karena saya tergelitik sejumlah status (FB, Yahoo! Messenger, BlackBerry Messenger, dan tweet) dalam bentuk doa.

Kenapa orang berdoa di Facebook dan Twitter, jika Tuhan tak ada di media sosial?

Tergelitik, karena menurut guru agama saya dahulu, permohonan kepada Tuhan harus disampaikan dalam hening.
Doa adalah dialog pribadi antara kita dan Dia. Tapi, kini, kita melihat begitu banyak doa berseliweran di dunia maya dan bisa dibaca oleh jutaan orang.

Mereka mungkin berharap, Tuhan akan membaca status atau tweet itu dan mengabulkannya. “Kenapa tidak?” kata seorang teman yang kerap berdoa di Facebook. “Tuhan Maha Mendengar, Dia pasti juga tahu apa yang kita sampaikan lewat media online.” Benar, tapi apa perlunya? Kenapa tidak disampaikan dengan khidmat dan khusuk? “Soal kekhusukan, itu tergantung niat,” kata teman lainnya.

“Kalau kita menulis status atau tweet itu dengan khusuk, apa salahnya?” Tentu tak salah, tapi jawaban itu tidak memuaskan. Hanya berkelit dan terkesan defensif.

Tak puas dengan jawaban-jawaban (yang sepertinya kurang jujur itu), saya memutuskan untuk menganalisis doa-doa tersebut. Dan hasilnya, tidak terlalu mengejutkan.

Sebagian besar doa itu berisi pengumuman. Misalnya, “Terima kasih Tuhan, Kau telah melancarkan urusanku ini.” Meski berbentuk doa, sebenarnya mereka hanya ingin mengatakan kepada dunia bahwa dia telah berhasil melakukan suatu pekerjaan. Dengan membuat status berbentuk doa, mereka mungkin berharap pengumuman itu tidak terdengar pamer keberhasilan.

Model itu sama dengan model keluh kesah, seperti “Ya Allah, hari ini terasa berat, ringankanlah bebanku.” Dengan doa seperti ini mereka sebenarnya ingin berbagi dengan orang lain. Yang mereka harapkan adalah komentar dari teman-teman: “Sabar ya bu/pak …”Yang agak aneh sebenarnya adalah menjadikan Tuhan sebagai “sasaran antara” untuk menyentil orang lain.

Misalnya, “Tuhan, sadarkanlah dirinya.” Penulis status ini jelas ingin agar orang yang dituju membaca doa itu dan terusik. Biasanya, komentar dari teman-teman mereka akan berbunyi: “Siapa sih dia?” Dan penulis status akan menjawab: “Ada deh …

”Tentu saja, pemilik akun itu sah-sah saja menulis status apa pun. Akun-akun dia, apa hak kita melarangnya? Tapi, saya kok masih percaya, Tuhan lebih mendengar doa yang disampaikan secara lirih dan dalam kesepian.

Bukan di media sosial yang berisik. d^_^b d^_^b


_____
(surat elektronik | dikirim oleh djeng er @catfiz | 11.05.2017)