Tangki mobil itu mendadak penuh.
Padahal rombongan belum sempat mampir SPBU.
Pejabat daerah yang mendampingi hanya tersenyum kecil.
Katanya cuma pelayanan biasa.
Biar perjalanan Jaksa Agung lebih nyaman.
Baharuddin Lopa tidak langsung bicara.
Ia melihat jarum bensin beberapa detik.
Lalu bertanya pelan,
siapa yang membayar.
Suasana langsung berubah.
Pejabat yang tadi paling ramah,
mulai salah tingkah.
Lopa justru turun dari mobil.
Ia meminta sopir mencari selang plastik dan jerigen kosong.
Di halaman kantor itu,
bensin di dalam tangki mulai disedot keluar dari mobil dinasnya.
Orang-orang hanya berdiri diam.
Tidak ada yang berani menyela.
Pejabat itu mencoba menjelaskan.
Katanya cuma bentuk penghormatan.
Tidak memakai uang negara.
Lopa menolak mendengar.
Ia bilang negara sudah memberi uang perjalanan.
Mobil dinas tidak boleh berjalan dengan sesuatu yang bukan haknya.
Yang membuat banyak orang diam,
itu cuma bensin.
Bukan koper uang.
Bukan proyek.
Bukan rumah mewah.
Cuma satu tangki penuh.
Dan itu saja sudah dianggap terlalu kotor untuk dipakai pulang.
_
AJR
._
@gw, 13052026

0 Komentar