Kamis, 19 Januari 2012

Break the Promises

Two best friends sat on top of a hill.

It was time to say goodbye.
They swore they'd be best friends forever. Nothing more, nothing less.
They wrote their promises on separate papers and swore they would read each others on one of their wedding day.


The girl wrote:

I can't promise that I won't fall in love with you because I did.
I can't promise that we'd only be best friends because I want us to be more.
I can't promise I'll walk down the aisle with someone else because I want to be your bride...


The guy wrote:

I promise I won't fall in love with you
I promise we'd only be best friends, nothing more.
I promise I'll walk down the aisle with someone else as my bride...


10 years later and it was the girl's wedding day.
The car just arrived at the church. Everyone was waiting for her to come out but she was reading a certain letter.

She sighed and cried softly.
She walked down the aisle and arrived at the altar.
She linked her hand with her groom and cried softly.
She was getting married to the man of her dreams.
Her best friend.


"Are you OK?" The groom asked.
"I just read your promise letter." The girl said.
"You like it?" He asked softly.
"I love it!" The girl smiled.


TRUTH:
Right at the bottom of the boy's letter was a small message.

"These are the promises I know I'll break. I love you."
_____
(surat elektronik | anonim)

Kamis, 12 Januari 2012

Direnungkan, dan Bertanyalah

Cobalah direnungkan, dan bertanyalah..."Apakah benar?"...

Yang singkat itu adalah Waktu.

Yang menipu itu adalah Dunia.

Yang dekat itu adalah Kematian.

Yang Besar itu adalah Hawa napsu.

Yang berat itu adalah Amanah.

Yang sulit itu adalah Ikhlas.

Yang mudah itu adalah Buat dosa.

Yang susah itu adalah Sabar.

Yang sering lupa itu adalah Bersyukur.

Yang membakar amal itu adalah Ghibah.

Yang mendorong ke Neraka itu adalah Lidah.

Yang berharga itu Iman.

Yang ditunggu ALLAH SWT itu TAUBAT.

_____
(surat elektronik | anonim)

Kamis, 05 Januari 2012

Anda Adalah Spesial

Suatu hari, seorang motivator terkenal membuka seminarnya dengan cara unik.

Sambil memegang uang pecahan AS $100, ia bertanya kepada hadirin, “Siapa yang mau uang ini?”

Tampak banyak tangan diacungkan, pertanda banyak yang minat.

“Saya akan berikan uang ini kepada salah satu dari Anda sekalian, tapi sebelumnya perkenankanlah saya melakukan ini.”

Ia berdiri mendekati hadirin.

Uang itu diremas-remas dengan tangannya sampai berlipat-lipat.

Lalu bertanya lagi, “Siapa yang masih mau uang ini?”

Jumlah tangan yang teracung tak berkurang.

“Baiklah,” jawabnya.

“Apa jadinya bila saya melakukan ini?” ujarnya sambil menjatuhkan uang ke lantai dan menginjak-injaknya dengan sepatunya.

Meski masih utuh, kini uang itu jadi amat kotor dan tak mulus lagi.

“Nah, apakah sekarang masih ada yang berminat?”

Tangan-tangan yang mengacung masih tetap banyak.

“Hadirin sekalian, Anda baru saja mendapatkan sebuah pelajaran penting. Apa pun yang terjadi dengan uang ini, Anda masih berminat karena apa yang saya lakukan tidak akan mengurangi nilainya. Biar pun lecek dan kotor, uang ini tetap bernilai 100 dolar.”

Dalam kehidupan ini, kita pernah beberapa kali terjatuh, terkoyak, dan berlepotan kotoran akibat keputusan yang kita buat dan situasi yang menerpa kita.

Dalam kondisi seperti itu, kita merasa tak berharga, tak berarti.

Padahal apapun yang telah dan akan terjadi, Anda tidak pernah akan kehilangan nilai di mata mereka yang mencintai Anda.

Jadi, setiap kali merasa diri tak berarti, ingatlah akan selembar uang 100 dolar tersebut.

Jangan pernah lupa – Anda adalah SPESIAL.

_____
(surat elektronik | anonim)