Jumat, 26 April 2013

Tuhan Menciptakan Kejahatan?

Seorang profesor yang ateis berbicara dalam sebuah seminar di kampus.

Prof: "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?"
Semua mahasiswa: "Betul, Dia yang menciptakan semuanya."

"Tuhan menciptakan semuanya?" tanya profesor sekali lagi.
"Ya, Prof. Semuanya," jawab mahasiswa itu lagi.

Prof: "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan kejahatan."
Mahasiswa itu terdiam tak dapat menjawab hipotesis profesor tersebut.

Suasana hening, kemudian dipecahkan oleh suara mahasiswa lainnya.

"Prof, bolehkah saya bertanya sesuatu?"
"Tentu saja," jawab profesor.

"Apakah dingin itu ada?"
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu dingin itu ada."

Mahasiswa itu menyangkal, "Kenyataannya Prof, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460 derajat Fahrenheit adalah ketiadaan panas sama sekali dan semua partikel menjadi diam tidak bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."

Mahasiswa itu melanjutkan, "Apakah gelap itu ada?"
Profesor menjawab, "Tentu saja, itu ada."

Mahasiswa menjawab, "Sekali lagi Anda salah. Gelap juga tidak ada. Gelap adalah keadaan di mana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, tetapi gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya, jadi beberapa warna dan mempelajari gelombang setiap warna. Tetapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan  berapa intensitas cahaya di ruangan itu. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya, mahasiswa itu bertanya, "Prof, apakah kejahatan itu ada?"
Dengan  bimbang Profesor tersebut menjawab, "Tentu saja ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah. Kejahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan dalam diri seseorang. Seperti dingin atau gelap, kata kejahatan dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan dalam diri seseorang. Tuhan yang maha baik tidak pernah menciptakan kejahatan.
Kejahatan adalah hasil dari tidak adanya Tuhan di hati manusia."

Profesor itu pun terdiam.

Siapakah mahasiswa itu?
Dia adalah: ALBERT EINSTEIN

_____
(surat elektronik | anonim)

Jumat, 19 April 2013

Ibu yang Bijak

To all wonderful Mommies nice story.

Seorang anak bertanya kepada Ibunya, "Ibu temanku membiarkan nyamuk menggigit tangannya sampai kenyang supaya nyamuk itu tidak menggigit anaknya. Apakah Ibu juga lakukan hal yang sama?"

Sang Ibu tertawa, "Tidak, tapi Ibu akan mengejar setiap nyamuk sepanjang malam, supaya nyamuk tidak sempat menggigit siapa pun."

"Oh iya, aku baca tentang seorang Ibu yang rela tidak makan supaya anak-anaknya bisa makan kenyang. Akankah Ibu lakukan hal yang sama?" si anak kembali bertanya.

Dengan tegas Ibunya menjawab, "Ibu akan bekerja keras agar kita semua bisa makan kenyang dan kamu tidak harus sulit menelan karena melihat ibumu menahan lapar."

Sang anak tersenyum...,  "Aku bisa selalu bersandar padamu Ibu."

Sambil memeluknya si Ibu berkata, "Tidak Nak! Tapi aku akan mengajarmu berdiri kokoh di atas kakimu sendiri, agar kau tidak harus jatuh tersungkur ketika aku harus pergi meninggalkanmu."

Pesan Moral:

"Seorang Ibu yang bijak bukan hanya menjadikan dirinya tempat bersandar, tetapi yang bisa membuat sandaran tersebut tidak lagi diperlukan." ({})

_____
(surat elektronik | anonim)

Jumat, 12 April 2013

Lebih Mudah Mana?


Lebih mudah mana...

Berusaha menyingkirkan semua kerikil tajam di setiap jalanan, atau memakai sepatu agar kaki kita tidak terluka?

Lebih mungkin mana...

Berusaha mensteril semua tempat agar tak ada kuman, atau memperkuat daya tahan tubuh kita sendiri?

Lebih mudah mana...

Berusaha mencegah setiap mulut agar tak bicara sembarangan, atau menjaga hati kita sendiri agar tak mudah tersinggung?

Lebih penting mana....

Berusaha menguasai orang lain, atau belajar menguasai diri sendiri?

Yang penting bukan bagaimana orang harus baik padaku, melainkan bagaimana aku berusaha baik pada semua orang...

Karena...

Bukan orang lain yang membuat aku bahagia, tapi Sikapkulah yang menentukan, aku bahagia atau tidak.
_____
(surat elektronik | anonim)