Selasa, 27 Mei 2014

Ketika Ibu Tertidur

Ketika ibumu tertidur lelap coba kamu pandangi ia dalam-dalam dan bayangkan bila matanya takkan terbuka untuk selamanya...

Pastilah kamu akan meneteskan air mata namun tangan ibu tak akan lagi mampu untuk mengusap air matamu.

Tak ada lagi nasihat ibu yang dahulu sering kamu abaikan.

Ketika ibu sudah tiada muncul kesadaran di benakmu lalu hatimu berucap "Pernahkah aku membahagiakan ibuku?! Oh, sungguh besar pengorbanan ibuku!"

(Bila kamu ikhlas kirim kata-kata ini ke teman-temanmu semoga TUHAN yang membalas niat baikmu)

Sesungguhnya  REZEKI itu ada pada IBU KANDUNG kita TERCINTA.
Karena ALLAH telah memutuskan.

Yang tak sayang ibu tak usah di-broadcast!!!  :)
Karena aku sangat sayang sekali kepada ibuku.

I LOVE IBU-ku dari anakmu BAGUS

(Maaf yang tidak punya ibu, tapi ketahuilah ibumu sangat sayang sekali kepada kamu)

'  (•̃͡-̮•̃͡)

_____
(surat elektronik) 

Selasa, 20 Mei 2014

Marah dan Cinta

Ketika seorang pria sedang memoles-moles mobil barunya, anaknya yang berumur 6 tahun mengambil sebuah batu dan menggores-goresnya di badan mobil itu.

Dengan marah, pria tersebut memegang tangan anak itu dan memukul-mukulnya berulang-ulang, tanpa sadar bahwa ia sedang memegang kunci pas.

Di RS, anak itu kehilangan semua jari-jari tangannya karena remuk.

Ketika anak itu melihat ayahnya dengan menahan rasa sakit di matanya, dia bertanya, "Ayah, kapan jari-jariku akan tumbuh lagi?"

Pria itu sangat terpukul dan terdiam, dia kembali ke mobilnya dan terus menerus menendang-nendangnya. Menyesali perbuatannya, dia duduk di depan mobil itu dan melihat goresan yang ditulis anaknya "LOVE YOU DAD".

Beberapa hari kemudian pria itu kedapatan bunuh diri.

Marah dan Cinta tak ada batasannya, pilihlah yang terakhir agar Anda punya hidup yang indah.

Barang-barang hanya dibuat, tapi Orang untuk dicintai.

Tapi itulah masalah di dunia sekarang ini, keadaan dibalik, orang dibuat dan barang dicintai.

Berhati-hatilah, pikiran Anda menjadi kata-kata, kata-kata menjadi aksi, aksi menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi karakter, dan karakter menentukan hidup Anda.

_____
(surat elektronik | anonim)

Selasa, 13 Mei 2014

Kesempurnaan Hidup

Suatu hari Kahlil Gibran bertanya kepada gurunya.

Gibran: "Bagaimana caranya agar kita mendapatkan sesuatu yang paling sempurna dalam hidup?"

Sang guru: "Berjalanlah lurus di taman bunga, lalu petiklah bunga yang paling indah menurutmu dan jangan pernah kembali ke belakang!!"

Setelah berjalan dan sampai di ujung taman, Gibran kembali dengan tangan hampa.

Lalu sang guru bertanya: "Mengapa kamu tidak mendapatkan bunga satu pun?"

Gibran: "Sebenarnya tadi aku sudah menemukannya, tapi tidak ku petik karena aku pikir mungkin yang di depan pasti ada yang lebih indah, namun ketika aku sudah sampai di ujung, aku baru sadar bahwa yang aku lihat tadi adalah yang terindah, dan aku pun tak bisa kembali ke belakang lagi"

Sambil tersenyum sang guru berkata: "Yaa... itulah hidup, semakin kita mencari kesempurnaan, semakin pula kita tak akan pernah mendapatkannya, karena sejatinya kesempurnaan yang hakiki tidak akan pernah ada, yang ada hanyalah keikhlasan hati kita untuk menerima kekurangan.”

  • Bila tidak mungkin memberi, jangan mengambil;
  • Bila mengasihi terlalu sulit, jangan membenci;
  • Bila tidak bisa menghibur orang, jangan membuatnya sedih;
  • Bila tidak mungkin meringankan beban orang, jangan memberatkannya;
  • Bila tidak bisa memuji, jangan menghujat;
  • Bila tidak bisa menghargai, jangan menghina;
  • Bila tidak suka bersahabat, jangan bermusuhan.

_____
(surat elektronik | anonim) 

Selasa, 06 Mei 2014

Nasihat untuk Harun Al-Rasyid

Suatu ketika, Khalifah Harun Al-Rasyid duduk gelisah. Untuk meringankan beban pikirannya, ia mengundang ulama terkemuka pada masanya, Abu As-Sammak. “Nasihatilah aku!” pinta Khalifah.

Pada saat yang sama, pelayan membawa segelas air untuk Khalifah. Sebelum minum, Abu As-Sammak berkata, “Tunggu sebentar. Seandainya dalam keadaan sangat haus, sedangkan segelas air ini tidak kau peroleh, berapakah harga yang kau siap bayar? Jawablah dengan jujur!”

“Setengah dari kekayaanku,” jawab Khalifah.

Sang ulama pun mempersilakan Khalifah minum. Selesai minum, Abu As-Sammak bertanya lagi, “Seandainya air tadi mendesak untuk dikeluarkan, tapi kau tak mampu mengeluarkannya, berapakah yang akan engkau bayarkan agar ia keluar?”

Khalifah menjawab, “Setengah dari kekayaanku.”

“Kalau demikian, sadarilah bahwa seluruh kekayaan dan kekuasaan yang ada di sisimu, nilainya hanya segelas air. Tidak wajar diperebutkan dan dipertahankan tanpa hak. Ketahuilah, betapa banyak nikmat Allah selain segelas air itu yang telah engkau nikmati sehingga tidak wajar jika engkau tidak mensyukurinya,” nasihat Abu As-Sammak kepada Harun Al-Rasyid.
_____
(surat elektronik | anonim)