Pukul 13.20, ruang operasi RS Jebres belum sempat bersih—darah masih hangat saat pintu didobrak dari luar.
Bukan perawat yang masuk, tapi orang-orang bersenjata yang menyebut namanya seperti sudah lama menunggu.
Dr. Moewardi.
Dokter yang lebih sering pulang tanpa uang daripada membawa bayaran.
Namanya dikenal di kampung-kampung, bukan di ruang praktik elite.
Di masa penjajahan, pilihannya jelas.
Gaji tinggi. Hidup nyaman.
Tapi dia justru memilih lorong sempit, pasien miskin, dan antrean panjang tanpa biaya.
Sering kali pasien bertanya berapa harus membayar.
Jawabannya hampir selalu sama: tidak usah.
Tahun 1945, saat situasi genting menjelang Proklamasi,
dia bukan tokoh pidato.
Dia berdiri dekat Sukarno-Hatta, berjaga kalau keadaan berubah.
Lalu 1948 datang lebih gelap.
Solo berubah cepat.
Orang-orang penting mulai pergi diam-diam.
Rumah sakit masih penuh.
Beberapa pasien tidak bisa dipindahkan.
Sebagian bahkan tidak sadar.
Dia diminta pergi.
Dia menolak.
Hari itu, 13 September 1948, operasi sedang berjalan.
Belum selesai.
Pintu dibuka paksa.
Tangannya dihentikan.
Bukan karena gagal—tapi karena dianggap lawan.
Ia dibawa keluar.
Masih memakai pakaian operasi.
Tanpa sempat kembali.
Tidak ada perlawanan.
Tidak ada penjelasan panjang.
Hanya langkah yang semakin jauh dari ruang yang belum selesai.
Sejak hari itu, namanya tetap hidup.
Rumah sakit itu memakai namanya.
Pasien terus datang setiap hari.
Tapi tubuhnya tidak pernah ditemukan.
_
AJR
Jas merah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.
._
@gwa, 16042026

0 Komentar