Senin, 26 November 2012

Hidup Tak Selalu Mulus

Hidup Tak Selamanya Berjalan Mulus...
  • Butuh Batu Kerikil supaya kita ber-Hati-Hati
  • Butuh Semak Berduri supaya kita Waspada
  • Butuh Persimpangan supaya kita Bijaksana dalam memilih
  • Butuh Petunjuk Jalan supaya kita  punya Harapan tentang arah masa depan.
  • Butuh Masalah supaya kita tahu kita  punya Kekuatan
  • Butuh Pengorbanan supaya kita tahu cara Bekerja Keras
  • Butuh Air Mata supaya kita tahu me-Rendahkan Hati
  • Butuh di-Cela supaya kita tahu bagaimana Cara Menghargai
  • Butuh Tertawa supaya kita tahu Mengucap Syukur
  • Butuh Senyum supaya kita tahu kita  punya Cinta
  • Butuh Orang Lain supaya kita tahu kita Tak Sendiri...
_____
(surat elektronik | anonim)

Senin, 19 November 2012

Belajar dari Rajawali

Rajawali merupakan jenis unggas yang memunyai umur paling panjang di dunia, dapat mencapai 70 tahun.

Tapi untuk mencapai umur itu seekor Rajawali harus membuat keputusan besar pada umurnya yang ke-40 tahun.

Saat umur 40 tahun, cakarnya mulai menua, paruh menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dada. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal, sehingga menyulitkan saat terbang.

Saat itu, ia hanya memunyai 2 pilihan, menunggu kematian atau menjalani proses transformasi yang menyakitkan selama 150 hari.

Saat melakukan transformasi itu, ia harus berusaha keras terbang ke atas  puncak gunung untuk kemudian membuat sarang di tepi jurang, berhenti dan tinggal di sana selama proses berlangsung.

Pertama, ia harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari  mulutnya, kemudian menunggu tumbuhnya paruh baru.

Dengan paruh yang baru tumbuh itu, ia harus mencabut satu persatu cakar-cakarnya dan ketika cakar yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu.

Suatu proses yang panjang dan menyakitkan.

5 bulan kemudian, bulu-bulu yang baru, tumbuh sempurna. Ia mulai dapat terbang kembali.

Dengan paruh dan cakar baru, ia mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh energi…!

Dalam kehidupan, kadang kita juga harus melakukan suatu keputusan yang BESAR untuk memulai sesuatu proses PEMBARUAN.

Berani membuang kebiasaan-kebiasaan lama yang mengikat dan melekat kuat, meski pun itu adalah sesuatu yang menyenangkan dan membuat kita terlena.

Hanya bila kita bersedia melepaskan beban lama, membuka diri untuk belajar hal-hal baru, kita memunyai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan kita yang terpendam, mengasah keahlian kita sepenuhnya dan menatap masa depan dengan penuh keyakinan.

Tantangan terbesar untuk berubah ada di dalam Diri Sendiri.

_____
(surat elektronik | anonim)

Senin, 12 November 2012

Tuhan Itu Pemulung

Renungan Indah tentang siapakah Tuhan itu?

Suatu ketika seorang guru bertanya kepada murid-muridnya tentang siapa itu Tuhan?

Ketika guru bertanya kepada Steven, menjawablah ia bahwa Tuhan itu adalah hakim yang mengadili orang jahat, karena bapaknya Steven seorang hakim.

Lalu guru bertanya kepada Albert, siapakah Tuhan? Jawab Albert, Tuhan adalah dokter yang bisa menyembuhkan segala penyakit, karena bapaknya Albert adalah seorang dokter.

Selanjutnya guru bertanya kepada Michael, siapa Tuhan? Michael berkata bahwa Tuhan adalah yang bisa memberikan segalanya ketika kita meminta kepada-NYA. Bapaknya Michael adalah konglomerat yang selalu menuruti keinginan anaknya.

Semua anak ditanya dan jawabnya adalah perspektif mereka terhadap pekerjaan bapaknya di dunia.

Tibalah giliran Sarjo yang akan ditanya oleh guru. Guru tahu bahwa Sarjo tidak semapan teman-temannya yang hidupnya berkecukupan.

Kepala Sarjo menunduk ke bawah, tidak berani menatap gurunya.

Sang guru lalu bertanya kepada Sarjo, siapakah Tuhan itu?  Dengan suara lemah Sarjo menjawab bahwa Tuhan itu adalah seorang "Pemulung".

Tiba-tiba kelas menjadi gaduh dengan jawaban Sarjo...
Bagaimana bisa Tuhan itu "Pemulung"???

Lalu guru pun bertanya, kenapa Sarjo bilang kalau Tuhan itu "Pemulung"?

Lalu Sarjo menjawab dengan menengadahkan mukanya, Sarjo berkata bahwa seorang pemulung mengambil barang yang tidak berguna dan mengumpulkannya, membersihkannya sehingga menjadi berguna.

Bapak saya juga memungut saya dari jalanan dan membawa pulang saya ke rumahnya, saya diasuhnya, disekolahkan, dididiknya sehingga menjadi berguna. Jika bapak saya tidak mengambil saya, entah jadi apa nasib saya sekarang di jalan.

Demikianlah Tuhan menjadi seorang "Pemulung" yang mengambil yang tidak berguna menjadi berguna.

Semua kelas terdiam dan tanpa terasa sang guru meneteskan airmata. Lalu dipeluknya Sarjo dengan erat sambil menangis terharu...

Begitu juga Tuhan mengambil kita dari yang sangat kotor, Dia membuat kita "bersih", supaya kita juga memunyai "Hati" untuk memungut "sesama" kita.

_____
(surat elektronik | anonim)

Senin, 05 November 2012

Mengapa orang menikah?

Mengapa orang menikah?
Karena mereka jatuh cinta.
Mengapa rumah tangganya kemudian bahagia?
Apakah karena jatuh cinta?

Bukan.

Tapi karena mereka terus bangun cinta.
Jatuh cinta itu gampang, 10 menit juga bisa.
Tapi bangun cinta itu susah sekali, perlu waktu seumur hidup.

Mengapa jatuh cinta gampang?
Karena saat itu kita buta, bisu dan tuli terhadap keburukan pasangan kita.

Tapi saat memasuki pernikahan, tak ada yang bisa ditutupi lagi. Dengan interaksi 24 jam per hari 7 hari dalam seminggu, semua belang tersingkap.

Di sini letak perbedaan jatuh cinta dan bangun cinta.

Jatuh cinta dalam keadaan menyukai. Namun bangun cinta diperlukan dalam keadaan jengkel.

Dalam keadaan jengkel, cinta bukan lagi berwujud pelukan, melainkan berbentuk iktikad baik memahami konflik dan bersama-sama mencari solusi yang dapat diterima semua pihak.

Cinta yang dewasa tak menyimpan uneg-uneg, walau ada beberapa hal peka untuk bisa diungkapkan, seperti masalah keuangan, orang tua dan keluarga, atau masalah seks.

Namun sepeka apa pun masalah itu perlu dibicarakan agar kejengkelan tak berlarut.

Syarat untuk keberhasilan pembicaraan adalah kita bisa saling memperhitungkan perasaan.

Jika suami istri saling memperhatikan perasaan sendiri, mereka akan saling melukai.
Jika dibiarkan berlarut, mereka bisa saling memusuhi dan rumah tangga sudah berubah bukan surga lagi tapi neraka.

Apakah kondisi ini bisa diperbaiki?

Tentu saja bisa, saat masing-masing mengingat komitmen awal mereka dahulu, apakah dahulu ingin mencari teman hidup atau musuh hidup?

Kalau memang mencari teman hidup kenapa sekarang malah bermusuhan??

Mencari teman hidup memang dimulai dengan jatuh cinta. Tetapi sesudahnya, porsi terbesar adalah membangun cinta.

Berarti mendewasakan cinta sehingga kedua pihak bisa saling mengoreksi, berunding, menghargai, tenggang rasa, menopang, setia, mendengarkan, memahami, mengalah, dan bertanggung jawab.

Mau  punya teman hidup? Jatuh cintalah. Tetapi sesudah itu bangunlah cinta :)

Selamat Pagi Cinta...

_____
(surat elektronik | anonim)