Minggu, 29 Desember 2013

Menanam Rasa Bahagia


Ada seorang sahabat bernama Hasan. Orangnya bersahaja. Ia punya "kebiasaan" yang menurut saya sangat langka. Kalau beli sesuatu dari "pedagang kecil", ia tidak mau menawar, bahkan seringkali Jika ada uang kembalian, selalu diberikan pada pedagangnya.

Pernah suatu saat kami naik mobilnya, mampir di SPBU. 

Hasan berkata kepada Petugas SPBU, "Tolong diisi 95 ribu rupiah saja ya."

Sang Petugas merasa heran. Ia pun balik bertanya, "Kenapa tidak sekalian 100 ribu rupiah pak?"

"Tidak apa-apa, isi saja 95 ribu rupiah," balas Hasan.

Selesai diisi bensin, Hasan memberikan uang 100 ribu rupiah. Sang petugas pun memberikan uang kembalian 5 ribu. Hasan berkata, "Tidak usah, ambil saja kembaliannya."

Sang petugas SPBU seperti tidak percaya. Ia pun berucap, "Terima kasih Pak. Seandainya semua orang seperti Bapak, tentu hidup kami tidak susah dengan gaji pas-pasan sebagai pegawai kecil."

Saya tertegun dengan perilaku Hasan dan juga petugas tersebut.

Di dalam perjalanan, saya bertanya pada sahabat saya tersebut, “Sering melakukan hal seperti itu?"

Hasan menjawab, "Temanku, kita tidak mungkin bisa mengikuti semua perintah Allah. Lakukanlah hal-hal kecil yang bisa kita lakukan di sekeliling kita, yang penting konsisten. Kita tidak akan jatuh miskin Jika setiap mengisi bensin kita bersedekah 5 ribu kepada mereka. Uang 5 ribu itu pun tidak akan membuat dia kaya tapi yang jelas membantu dan membuat hatinya bahagia."

Hiduplah tiap hari seperti matematika, mengalikan  sukacita, mengurangi kesedihan, menambahkan semangat, membagi kebahagiaan, dan menguadratkan kasih antarsesama...

Have a nice day  ({})

_____
(surat elektronik | anonim)

Minggu, 22 Desember 2013

Percakapan Horace Porter dan Ulysses

‎​CERITA INSPIRATIF

Jenderal Horace Porter pernah menulis tentang percakapannya dengan Jenderal Ulysses Grant suatu malam saat mereka duduk dekat api unggun.

Ditulis oleh Porter:
Jenderal Ulysses, Anda luar biasa, walaupun Anda dididik dalam kekerasan militer, dan selalu mengalami permainan kasar dalam tugas garis depan. Anda tidak terpancing untuk mengumpat.
Saya tidak pernah melihat Anda mengucapkan kata-kata kasar sekali pun. "Anda punya alasan untuk hal ini?" tanya Poter

Grant menjawab:
Saya tidak mau membiasakan mengumpat sejak remaja, saya tidak pernah melakukannya, dan ketika saya dewasa, saya memandang mengumpat adalah sebagai suatu tindakan kebodohan.
Karena kata-kata kasar membangkitkan amarah diri kita sendiri dan menyulut kemarahan orang lain.
Saya tidak pernah melihat kehidupan yang berkualitas dari seorang pemarah, selain lemah dan rapuh dari segi spiritual.
Seorang pemarah, adalah seorang yang lelah, ia adalah seorang yang berperang dengan dirinya sendiri, sekali pun ia menang, tetapi ia hancur.

"Tidak ada yang lebih buruk dari pada seorang yang menjadi marah sampai ia tidak dapat menguasai diri"

  • "Pada saat kita marah, sebenarnya kita telah kalah"
  • "Pada saat kita membenci, sebenarnya kita telah membuat hati kita terkunci"
  • "Pada saat kita mendendam. Sebenarnya kita telah menjadi tawanan dari rasa dendam".

Solusi menuju ketenangan adalah:

"MENGAMPUNI"

Rasakan kedamaian dari tindakan MENGAMPUNI kepada siapa pun yang pernah bersalah kepada Anda .

Karena, kalau diri kita pernah tersakiti kan tidak harus membalas dengan  menyakiti. Mengampuni bekal untuk beraktivitas!

_____
(surat elektronik | anonim)

Minggu, 15 Desember 2013

Mulailah dari Keluarga

Mengapa Australia yang dahulu nenek moyangnya berasal dari Tahanan Kriminal Inggris kini mampu masuk 10 negara terbaik untuk tempat tinggal manusia dan memiliki tingkat kriminalitas terendah di dunia...? (Melbourne terbaik)

Mengapa Indonesia yang dahulu nenek moyangnya berasal dari orang-orang yang Santun, Ramah, dan Berbudi Pekerti Luhur kini masuk dalam kelompok Negara Gagal Dunia, dengan tingkat KORUPSI nomor 3 di dunia dengan tingkat kriminalitas yang sangat tinggi dan moral yang sangat rendah...?

Ternyata semua itu bermuara pada "sistem pendidikan" pemerintahnya.

Para Pendidik dan Guru di Australia lebih khawatir jika anak-anak didik mereka tidak jujur, tidak mau mengantri dengan baik, tidak memiliki rasa empati dan hormat pada orang lain dan etika moral lainnya ketimbang mereka tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung.

"Guru-guru di Australia lebih prihatin jika murid-murid mereka memiliki perilaku moral yang kurang baik dari pada memiliki prestasi nilai akademik yang kurang baik." 

Mengapa?

Karena menurut mereka untuk membuat anak mampu membaca menulis dan berhitung atau menaikkan nilai akademik, kita hanya perlu waktu 3 sampai 6 bulan saja untuk secara intensif mengajarkannya. Tapi untuk mendidik perilaku moral seorang anak, kita membutuhkan waktu lebih dari 15 tahun untuk mengajarkannya.

Mengajarkan baca tulis, berhitung bisa diajarkan kapan saja, bahkan jika seandainya mereka sudah dewasa dan tua sekali pun masih bisa dilakukan, sementara mengajarkan Etika Moral waktunya sangat terbatas, dimulai saat Balita dan berakhir saat mereka Kuliah. Selain itu  untuk mengubah perilaku moral orang dewasa yang terlanjur rusak dan buruk, hampir sebagian besar orang tidak mampu melakukannya.

Bagaimana dengan pemikiran Pemerintah, Pendidik/Guru, dan Orangtua di Indonesia...???

Keluarga Indonesia, saya yakin jika kita semua segera tersadarkan dan segera bertindak benar, Indonesia masih bisa mengubah kondisinya saat ini mulai dari KELUARGA kita sendiri tentunya.

Semoga!

_____
(surat elektronik | anonim)

Rabu, 11 Desember 2013

Kasih Ibu

Seorang ibu terduduk di kursi rodanya suatu sore di tepi danau, ditemani anaknya yang sudah mapan dan berkeluarga.

Si ibu bertanya, "Itu burung apa yang berdiri di sana?"
"Bangau mama," anaknya menjawab dengan sopan.

Tak lama kemudian si mama bertanya lagi, "Itu yang warna putih burung apa?"
Sedikit kesal anaknya menjawab, "Ya bangau mama...!"

Kemudian ibunya kembali bertanya, "Lantas itu burung apa?"
Ibunya menunjuk burung bangau tadi yang sedang terbuang...
Dengan nada kesal si anak menjawab, "Ya bangau mama, kan sama saja! Memangnya mama tidak lihat dia terbang!"

Air menetes dari sudut mata si mama sambil berkata pelan, "Dahulu 35 tahun yang lalu aku memangkumu dan menjawab pertanyaan yang sama untukmu sebanyak 10 kali, sedang saat ini aku hanya bertanya 3 kali, tapi kau membentakku 2 kali..."

Si anak terdiam dan memeluk mamanya.

Pernahkah kita memikirkan apa yang telah diajarkan oleh seorang mama kepada kita?

Sayangilah mama/ibu-mu dengan sungguh-sungguh karena Sorga berada di telapak kaki ibu. Mohon ampunan jika kamu pernah menyakiti hati ibumu. Dan teruskan kepada orang-orang yang perlu membaca renungan ini.

* Pernah kita ngomelin dia? 'Pernah!'
* Pernah kita cuekin dia? 'Pernah!'
* Pernah kita pikir apa yang dia pikirkan? 'Enggak!'
* Sebenarnya apa yang dia pikirkan? 'Takut'

- Takut tak bisa liat kita senyum, menangis, atau ketawa lagi.
- Takut tak bisa mengajar kita lagi.

Semua itu karena waktu dia singkat.

Saat mama/papa menutup mata, tak akan lagi ada yang cerewet.
Saat kita nangis memanggil-manggil dia, apa yang dia balas?

'Dia cuma diam'

Tapi bayangannya dia tetap di samping kita dan berkata, "Anakku jangan menangis, mama/papa masih di sini. Mama/papa masih sayang kamu."

Kirim ke teman-temanmu kalau kamu sayang dan menghargai orang tua kamu.
Sayangilah mereka sebelum waktunya habis... ({})

I LOVE you mom and dad.
_____
(surat elektronik | anonim)

Minggu, 01 Desember 2013

Renungan Indah


Seringkali aku berkata:
Ketika semua orang memuji milik-ku
bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan,
bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya,
bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya,
bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya,
bahwa putraku hanyalah titipan-Nya.

Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?

Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita.

Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan  hawa nafsuku,
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua "derita" adalah hukum bagiku.

Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku.

Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
......

(Puisi terakhir Rendra yang dituliskannya di atas tempat tidur Rumah Sakit)

_____
(surat elektronik | anonim)