Selasa, 30 Desember 2014

Warisan Kaos Kaki Sobek

Al-Kisah seorang kaya raya (miliarder), sedang sakit parah ... menjelang ajal menjemput dikumpulkanlah anak-anak tercintanya.

Beliau berwasiat: Anak-anakku ... jika ayah sudah dipanggil Yang Maha Kuasa, ada permintaan ayah kepada kalian "tolong dipakaikan kaos kaki kesayangan ayah, walaupun kaos kaki itu sudah robek, ayah ingin pakai barang kesayangan semasa bekerja di kantor ayah dan minta kenangan kaos kaki itu dipakai bila ayah dikubur nanti.

Singkat cerita akhirnya sang ayah meninggal dunia.

Saat mengurus jenazah dan saat mengkafani, anak-anaknya minta ke Pak Modin untuk memakaikan kaus kaki yang robek itu sesuai wasiat ayahnya.

Akan tetapi tim kematian menolaknya: "Maaf secara syariat hanya 2 lembar kain putih saja yang diperbolehkan dipakaikan kepada mayat ...."

Terjadi diskusi panas antara anak-anak yang ingin memakaikan kaos kaki robek dan Pak Modin yang juga ustaz yang melarangnya.

Karena tidak ada titik temu dipanggilah penasihat keluarga sekaligus notaris.

Beliau menyampaikan: "Sebelum meninggal bapak menitipkan surat wasiat, ayo kita buka bersama-sama siapa tahu ada petunjuk."  

Maka dibukalah surat wasiat almarhum miliarder buat anak-anaknya yang dititipkan kepada notaris tersebut.

Ini bunyinya:

"Anak-anakku pasti sekarang kalian sedang bingung, karena dilarang memakaikan kaus kaki robek kepada mayat ayah ... lihatlah anak-anakku padahal harta ayah banyak, uang berlimpah, beberapa mobil mewah, tanah dan sawah di mana-mana, rumah mewah banyak ... tetapi tidak ada artinya ketika ayah sudah mati. Bahkan kaus kaki robek saja tidak boleh dibawa mati. Begitu tidak berartinya dunia, kecuali amal ibadah kita, sedekah kita yang ikhlas.

Anak-anakku inilah yang ingin ayah sampaikan agar kalian tidak tertipu dengan dunia yang sementara.

Salam sayang dari Ayah yang ingin kalian menjadikan dunia sebagai jalan menuju Allah ....

Semoga kejadian ini dapat mengingatkan kita semua, Insya Allah."

_____
(surat elektronik | anonim)

Kamis, 25 Desember 2014

Bahagia Milik Siapa?

Saudaraku semerah putih ... banyak hal yang terjadi di muka bumi ini ... tentunya hal itu menjadi pelajaran bernilai bagi kita semua ... peristiwa bunuh diri Robbin Williams, bintang film komedi.

Jika kekayaan bisa membuat orang bahagia, tentunya Adolf Merckle, orang terkaya dari Jerman, tidak akan menabrakkan badannya ke kereta api.

Jika ketenaran bisa membuat orang bahagia, tentunya Michael Jackson, penyanyi terkenal dari USA, tidak akan meminum obat tidur hingga over dosis.

Jika kekuasaan bisa membuat orang bahagia, tentunya G. Vargas, presiden Brazil, tidak akan menembak jantungnya.

Jika kecantikan bisa membuat orang bahagia, tentunya Marilyn Monroe, artis cantik dari USA, tidak akan meminum alkohol dan obat depresi hingga mati over dosis.

Jika kesehatan bisa membuat orang bahagia, tentunya Thierry Costa, dokter terkenal dari Perancis, tidak akan bunuh diri, akibat sebuah acara di televisi.

Ternyata, bahagia atau tidaknya hidup seseorang itu, bukan ditentukan oleh seberapa kayanya, tenarnya, cantiknya, kuasanya, sehatnya, atau sesukses apa pun hidupnya.

Tapi yang bisa membuat seseorang itu bahagia adalah dirinya sendiri ....

Mampukah ia mau mensyukuri semua yang sudah dimilikinya dalam segala hal.

Kalau kebahagiaan bisa dibeli, pasti orang-orang kaya akan membeli kebahagiaan itu. Dan, kita akan sulit mendapatkan kebahagiaan karena sudah diborong oleh mereka.

Kalau kebahagiaan itu ada di suatu tempat, pasti belahan lain di bumi ini akan kosong karena semua orang akan ke sana berkumpul di mana kebahagiaan itu berada.

Untungnya, letak kebahagiaan itu berada di dalam hati setiap manusia.

Jadi kita tidak perlu membeli atau pergi mencari kebahagiaan itu.

Yang kita perlukan adalah HATI yang BERSIH dan IKHLAS serta PIKIRAN yang JERNIH, maka kita bisa menciptakan rasa BAHAGIA itu kapan pun, di mana pun dan dengan kondisi apa pun.

Sesungguhnya, KEBAHAGIAAN itu milik orang-orang yang dapat BERSYUKUR, Bersyukur, dan Bersyukur.

#dikirim oleh error MKKG | catfizer
(tanggal tidak tercatat)

Senin, 22 Desember 2014

Terima Kasih Ibunda, Mamah, Ummi

Ibu …
Ketika aku gagal, kau terus menasihati dan memotivasiku tanpa rasa kecewa
Kau tersenyum dan s’lalu bangga terhadapku

Ummi …
Kau tanamkan iman dan takwa sebagai petunjuk untuk kehidupan ini
Kau bekali aku dengan ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat

Mamah …
Ketika aku menangis di waktu kecil, kau berupaya membahagiakan aku
Dan kau kabulkan permintaanku, sehingga aku dibilang Anak Mamah.

Bunda …
Kau abaikan permintaanku jika itu tidak baik untukku
Karena yang terpikirkan olehmu adalah yang terbaik untukku

Ibu …
Ketika kau sedikit mengecewakan aku,
Kuberani ungkapkan itu meski dengan sopan.
Entah berapa kali aku mengecewakanmu
Kau tak mengurangi rasa kasih sayangmu kepadaku.

Ummi …
Ketika aku terluka hati, melamun sendiri, dan merana karena cinta,
Kau pun menangis meneteskan air mata merasakan tangis batin ini.

Mamah ...
Ketika aku berhasil dan sukses dengan segala upaya dan ikhtiarku
Itu tak lepas dari doa-doamu sehingga aku bahagia.
Kau pun turut bahagia dan tersenyum, tapi kenapa kau menangis...
Sungguh kau sangat menyayangi aku.

1. Terima kasih Mamah
2. Terima kasih Ibunda
3. Terima kasih Ummi
_____
(surat elektronik | anonim)

Jumat, 19 Desember 2014

Bagaimana Meraih Kebahagiaan?

Mari kita renungkan bersama hal ini.                

Ada suatu acara seminar yang dihadiri oleh sekitar 50 peserta.

Tiba-tiba sang Motivator berhenti berkata-kata dan mulai memberikan balon kepada masing-masing peserta. Dan kepada mereka masing-masing diminta untuk menulis namanya di balon itu dengan menggunakan spidol. Kemudian semua balon dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam ruangan lain.

Sekarang semua peserta disuruh masuk ke ruangan itu dan diminta untuk menemukan balon yang telah tertulis nama mereka dan diberi waktu hanya 5 menit.

Semua orang panik mencari nama mereka, bertabrakan satu sama lain, mendorong, dan berebut dengan orang lain di sekitarnya sehingga terjadi kekacauan.

Waktu 5 menit sudah usai, tidak ada seorang pun yg bisa menemukan balon mereka sendiri.

Sekarang masing-masing diminta untuk secara acak mengambil sembarang balon dan memberikannya kepada orang yang namanya tertulis di atasnya.

Dalam beberapa menit semua orang punya balon mereka sendiri".      

Akhirnya sang Motivator berkata, "Kejadian yang baru terjadi ini mirip dan sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Semua orang sibuk mencari kebahagiaan untuk diri sendiri, (mirip dengan mencari balon mereka sendiri) dan banyak yang gagal. Mereka baru berhasil mendapatkannya ketika mereka memberikan kebahagiaan kepada orang lain (memberikan balon kepada pemiliknya). Kebahagiaan kita terletak pada kebahagiaan orang lain"

»»...... Berilah kebahagiaan kepada orang lain, maka Anda akan mendapatkan kebahagiaan Anda sendiri ......««

_____
(surat elektronik | anonim)