Senin, 31 Agustus 2015

Koin Penyok


Seorang lelaki berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Saat menyusuri jalanan sepi, kakinya terantuk sesuatu.

Ia membungkuk dan menggerutu kecewa. "Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok."

Meski pun begitu ia membawa koin itu ke bank. "Sebaiknya koin ini dibawa ke kolektor uang kuno," kata teller itu memberi saran. Lelaki itu membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, koinnya dihargai 30 dolar.

Lelaki itu begitu senang. Saat lewat toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu obral. Dia pun membeli kayu seharga 30 dolar untuk membuat rak buat istrinya. Dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu bermutu yang dipanggul lelaki itu. Dia menawarkan lemari 100 dolar untuk menukar kayu itu. Setelah setuju, dia meminjam gerobak untuk membawa pulang lemari itu.

Dalam perjalanan dia melewati perumahan. Seorang wanita melihat lemari yang indah itu dan menawarnya 200 dolar. Lelaki itu ragu-ragu. Si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dolar. Lelaki itu pun setuju.

Saat sampai di pintu desa, dia ingin memastikan uangnya. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dolar.

Tiba-tiba seorang perampok datang, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istrinya kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya dan bertanya, "Apa yang terjadi? Engkau baik-baik saja kan? Apa yang diambil perampok tadi?"

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, "Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi."

Bila kita sadar kita tak pernah memiliki apa pun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?

Sebaliknya, sepatutnya kita bersyukur atas segala yang telah kita miliki, karena ketika datang dan pergi kita tidak membawa apa-apa.

Menderita karena melekat. Bahagia karena melepas.

Karena demikianlah hakikat sejatinya kehidupan, apa yang sebenarnya yang kita punya dalam hidup ini?

Tidak ada, karena bahkan napas kita saja bukan kepunyaan kita dan tidak bisa kita genggam selamanya.

Hidup itu perubahan dan pasti akan berubah.

Saat kehilangan sesuatu kembalilah ingat bahwa sesungguhnya kita tidak punya apa-apa jadi "kehilangan" itu tidaklah nyata dan tidak akan pernah menyakitkan.  Kehilangan hanya sebuah tipuan pikiran yang penuh dengan ke"aku"an. Ke"aku"an lah yang membuat kita menderita. Rumahku, hartaku, istriku, anakku.

Lahir tidak membawa apa-apa, meninggal pun sendiri, tidak ajak apa-apa dan siapa-siapa.

Pada waktunya "let it go", siapa pun yang bisa melepas, tidak melekat, tidak menggenggam erat maka dia akan bahagia.


_____
(surat elektronik | anonim)

Senin, 24 Agustus 2015

Memaafkan Itu Indah


Alkisah, dua orang sahabat karib sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan mereka bertengkar dan salah seorang menampar temannya.

Orang yang kena tampar, hatinya merasa sakit tapi tanpa berkata, lalu dia menulis di atas pasir: "Hari ini sahabat terbaikku menampar pipiku".

Mereka terus berjalan sampai akhirnya menemukan oasis. Mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang kena tampar itu berenang dan nyaris tenggelam, tapi berhasil diselamatkan sahabatnya.

Setelah dia siuman dan rasa takutnya hilang, kembali dia menulis di batu: "Hari ini sahabat terbaikku menyelamatkan nyawaku".

Sahabatnya bertanya, "Kenapa setelah saya melukai hatimu dengan tamparan, kau menulisnya di atas pasir, sekarang menuliskan ini di batu?"

Sambil tersenyum temannya menjawab : "Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas Pasir agar "ANGIN MAAF" datang berhembus dan menghapusnya. Dan ketika sesuatu yang luar biasa baik terjadi, kita harus memahatnya di atas "HATI" kita, agar tak pernah bisa hilang tertiup angin, namun tersimpan selamanya."

Sahabat ...

Adakalanya kita dan orang terdekat kita berada dalam situasi yang sulit, yang kadang menyebabkan kita mengatakan atau melakukan hal-hal yang menyakiti satu sama lain. Juga terjadinya beda pendapat dan konflik karena Sudut Pandang yang berbeda.

Oleh karena itu, sebelum kita menyesal di kemudian hari, cobalah untuk saling me-MAAF-kan dan me-LUPA-kan masa lalu.

Hiduplah saat ini ... belajarlah dari masa lalu, sehingga menjadi semakin baik dan indah adanya.

SEMOGA SEMUA MAKHLUK BERBAHAGIA!

_____
(surat elektronik | anonim)