Senin, 28 September 2015

Aksi = Reaksi

Thought for the Day - 7th April 2015 (Tuesday)

Difficulties, troubles, and worries come in the natural course as a consequence of past actions. Human birth is the result of Karma (past actions); there can be no escape from its consequences. 


As is your action, so is the reaction. 

When you stand before a mirror and offer salutation, your salutation gets reflected to you. If you address harsh words to the mirror, the harshness again comes back in the same manner. 

It is evident that the fruits of our actions are determined by the nature of our actions. 

Man is an image of God. ‘God appears in human form (Daivam maanusha rupena)’ declares the scriptures. God does not come down as Avatar to relieve specific individuals of their troubles and sorrow, and to confer joy and happiness on them. 

God takes a human form from time to time to show humanity how human lives can be divinised.


Kesulitan, masalah, dan kekhawatiran muncul dalam perjalanan alami sebagai konsekuensi dari tindakan masa lalu. Kelahiran manusia adalah hasil dari Karma (tindakan masa lalu); tidak ada seorang pun yang dapat melarikan diri dari konsekuensinya.

Bagaimana pun tindakanmu, demikianlah reaksinya.

Ketika engkau berdiri di depan cermin dan memberikan salam/penghormatan, salam/penghormatanmu akan tercermin kepadamu. Jika engkau berbicara kata-kata kasar ke cermin, dengan cara yang sama, kata-kata kasar akan kembali padamu.

Jelaslah bahwa buah dari tindakan kita ditentukan oleh sifat dari tindakan kita. Manusia adalah bayangan Tuhan.

Dalam kitab suci disampaikan 'Tuhan muncul dalam wujud manusia (Daivam maanusha rupena)’. Tuhan tidak turun sebagai Avatar untuk meringankan individu tertentu dari masalah dan penderitaan mereka, dan untuk memberikan sukacita dan kebahagiaan pada mereka.

Tuhan mengambil wujud manusia dari waktu ke waktu untuk menunjukkan bagaimana manusia menjalankan kehidupannya agar bisa menjadi divine.

(Divine Discourse, 3 Sep 1988)
-BABA-

_____
(surat elektronik | anonim)

Senin, 21 September 2015

Pengalaman Pedagang Hewan Kurban

Seorang pedagang hewan kurban berkisah tentang pengalamannya.

Seorang ibu datang memperhatikan dagangan saya. Dilihat dari penampilannya sepertinya tidak akan mampu membeli. Namun tetap saya coba hampiri dan menawarkan kepadanya, “Silahkan Bu .…”, lantas ibu itu menunjuk salah satu kambing termurah sambil bertanya, ”kalau yang itu berapa Pak?”

“Yang itu 700 ribu Bu,” jawab saya.
“Harga pasnya berapa?” tanya kembali si Ibu.
“600 deh, harga segitu untung saya kecil, tapi biarlah …."
“Tapi, uang saya hanya 500 ribu, boleh Pak?” pintanya.

Waduh, saya bingung, karena itu harga modalnya, akhirnya saya berembuk dengan teman sampai akhirnya diputuskan diberikan saja dengan harga itu kepada ibu tersebut.

Saya pun mengantar hewan kurban tersebut sampai ke rumahnya, begitu tiba di rumahnya, “Astaghfirullah …, Allahu Akbar …, terasa menggigil seluruh badan karena melihat keadaan rumah ibu itu.

Rupanya ibu itu hanya tinggal bertiga, dengan ibunya dan putranya di rumah gubug berlantai tanah tersebut. Saya tidak melihat tempat tidur kasur, kursi ruang tamu, apalagi perabot mewah atau barang-barang elektronik. Yang terlihat hanya dipan kayu beralaskan tikar dan bantal lusuh.

Di atas dipan, tertidur seorang nenek tua kurus.

“Mak … bangun Mak, nih lihat saya bawa apa?” kata ibu itu pada nenek yang sedang rebahan sampai akhirnya terbangun.
“Mak, saya sudah belikan Emak kambing buat kurban, nanti kita antar ke masjid ya Mak ....” kata ibu itu dengan penuh kegembiraan.

Si nenek sangat terkaget meski nampak bahagia, sambil mengelus-elus kambing, nenek itu berucap, “Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga kalau emak mau berkurban.”

“Nih Pak, uangnya, maaf ya kalau saya menawarnya kemurahan, karena saya hanya tukang cuci di kampung sini, saya sengaja mengumpulkan uang untuk beli kambing yang akan diniatkan buat kurban atas nama ibu saya ….” kata ibu itu.

Kaki ini bergetar, dada terasa sesak, sambil menahan tetes air mata, saya berdoa, “Ya Allah …, Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hamba-Mu yang pasti lebih mulia ini, seorang yang miskin harta namun kekayaan imannya begitu luar biasa.”

“Pak, ini ongkos kendaraannya …” panggil ibu itu.

”Sudah Bu, biar ongkos kendaraannya saya yang bayar,’ kata saya.

Saya cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan dengan hamba-Nya yang dengan kesabaran, ketabahan, dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya.

Untuk mulia ternyata tidak perlu harta berlimpah, jabatan tinggi apalagi kekuasaan, kita bisa belajar keikhlasan dari ibu itu untuk menggapai kemuliaan hidup. Berapa banyak di antara kita yang diberi kecukupan penghasilan, namun masih saja ada keengganan untuk berkurban, padahal bisa jadi harga handphone, jam tangan, tas, atau pun aksesoris yang menempel di tubuh kita harganya jauh lebih mahal dibandingkan seekor hewan kurban. Namun selalu kita sembunyi dibalik kata tidak mampu atau tidak dianggarkan.

Oleh: Ust. Aidil Heryan

_____
(surat elektronik | @Tatto Sugiopranoto)

Senin, 14 September 2015

Perubahan Paradigma Mengakibatkan Perubahan Besar


Aku pernah sangat KAGUM pada manusia cerdas, manusia yang kaya sekali, manusia yang berhasil dalam karier hidup dan hebat dunianya.

Sekarang aku memilih mengganti kriteria kekagumanku, aku kagum dengan manusia yang hebat di mata Allah. Manusia yang sanggup taat dan bertakwa kepada Allah, sekali pun kadang penampilannya begitu bersahaja.

Dahulu aku memilih MARAH karena merasa harga diriku dijatuhkan, ketika orang lain berlaku zalim kepadaku atau menggunjingku, menyakitiku dengan kalimat-kalimat sindiran.

Sekarang aku memilih BERSYUKUR dan berterima kasih, karena ku yakin ada transfer pahala dari mereka, ketika aku mampu memaafkan dan bersabar.

Aku dahulu memilih, MENGEJAR dunia dan menumpuknya sebisaku, ternyata aku sadari kebutuhanku hanya makan dan minum untuk hari ini dan bagaimana cara membuangnya dari perutku.

Sekarang aku memilih BERSYUKUR dengan apa yang ada  dan memilih bagaimana aku bisa mengisi waktuku hari ini, dengan penuh makna dan bermanfaat untuk sesama.

Aku dahulu berfikir bahwa aku bisa MEMBAHAGIAKAN orang tuaku, saudara dan teman-temanku nanti kalau aku berhasil dengan duniaku,  ternyata yang membuat kebanyakan mereka bahagia bukan itu ..., melainkan karena sikap, tingkah, dan sapaku.

Aku memilih membuat mereka bahagia sekarang dengan apa yang ada padaku.

Dahulu aku memilih untuk membuat RENCANA-RENCANA dahsyat untuk duniaku, ternyata aku menjumpai teman dan saudara-saudaraku begitu cepat menghadap kepada-Nya. Tak ada yang bisa menjamin aku besok bertemu matahari. Tak ada yang bisa memberikan garansi aku masih bisa menghirup napas keesokan hari..

Sekarang aku memilih memasukkan dalam rencana-rencana besarku, yang paling utama adalah agar aku selalu SIAP menghadap kepada-NYA hari esok atau lusa!

Innalillahi wa innailaihi rojiun ....

_____
(surat elektronik | anonim)

Senin, 07 September 2015

Bersyukur


Kita sering mendengar seseorang mengatakan ingin mencari kebahagiaan.

Kalau kebahagiaan bisa dibeli, pasti orang-orang yang memiliki harta berlebih akan membeli kebahagiaan itu ... dan orang-orang yang kurang beruntung tidak akan mendapat kebahagiaan karena sudah diborong oleh mereka yang memiliki harta lebih.

Dan kalau kebahagiaan itu ada di suatu tempat, pasti belahan lain di bumi ini akan kosong karena semua orang akan berlomba untuk sampai dan berada paling dekat dengan tempat di mana kebahagiaan itu berada.

Untung saja, kebahagiaan itu berada di dalam hati setiap manusia, sehingga kita tidak perlu membeli atau mencari kebahagiaan itu ... tidak perlu berlomba untuk mendapatkan.

Hanya dengan hati yang bersih dan ikhlas serta pikiran yang jernih, kita bisa merasakan kebahagiaan itu kapan pun, di mana pun dan dengan kondisi apa pun.

Oleh sebab itu, mari bersama kita ciptakan selalu kebahagiaan di hati dan pikiran kita, serta lingkungan kita, maka kita akan selalu menjadi orang yang bersyukur dan beruntung.

Kunci Kebahagiaan milik orang-orang yang dapat BERSYUKUR dalam setiap peristiwa hidupnya.

"Jika kamu tidak memiliki apa yang kamu sukai, maka sukailah apa yang kamu miliki saat ini."

Bersyukur adalah sebuah ketrampilan yang bisa di pelajari.

Bersyukur bukanlah hasil dari suatu keadaan tertentu melainkan hasil dari sebuah gaya hidup yang dilakukan dengan sengaja (butuh pembiasaan)

"Janganlah mengeluh karena tangan yang belum dapat menggapai Bintang, tapi bersyukurlah karena kaki yang masih dapat menginjak Bumi."

Semoga tetap istiqomah dan bersyukur.
Semoga bermanfaat.


_____
(surat elektronik | anonim)