Jumat, 29 September 2017

Mencari Tuhan

Kultum

Di Facebook saya mencari Tuhan. Setelah memasukkan kata “Tuhan” di kolom pencarian, muncul sebuah akun. Tapi itu bukan milik-Nya (dengan N kapital), melainkan kepunyaan sebuah band dari Turki.

Entah apa arti tuhan dalam bahasa Turki, karena di kamus online saya tak menemukannya. Kalau pun ada Tuhan di Facebook, itu adalah akun dan fanpage yang dibuat oleh para penggemar Tuhan.

Hal yang sama terjadi di Twitter. Saya gagal mencari Tuhan di dunia maya.

Mungkin Anda bertanya, kenapa saya iseng mencari Tuhan di jejaring sosial, meski semua orang waras tahu, pencarian itu akan gagal. Keisengan itu muncul karena saya tergelitik sejumlah status (FB, Yahoo! Messenger, BlackBerry Messenger, dan tweet) dalam bentuk doa.

Kenapa orang berdoa di Facebook dan Twitter, jika Tuhan tak ada di media sosial?

Tergelitik, karena menurut guru agama saya dahulu, permohonan kepada Tuhan harus disampaikan dalam hening.
Doa adalah dialog pribadi antara kita dan Dia. Tapi, kini, kita melihat begitu banyak doa berseliweran di dunia maya dan bisa dibaca oleh jutaan orang.

Mereka mungkin berharap, Tuhan akan membaca status atau tweet itu dan mengabulkannya. “Kenapa tidak?” kata seorang teman yang kerap berdoa di Facebook. “Tuhan Maha Mendengar, Dia pasti juga tahu apa yang kita sampaikan lewat media online.” Benar, tapi apa perlunya? Kenapa tidak disampaikan dengan khidmat dan khusuk? “Soal kekhusukan, itu tergantung niat,” kata teman lainnya.

“Kalau kita menulis status atau tweet itu dengan khusuk, apa salahnya?” Tentu tak salah, tapi jawaban itu tidak memuaskan. Hanya berkelit dan terkesan defensif.

Tak puas dengan jawaban-jawaban (yang sepertinya kurang jujur itu), saya memutuskan untuk menganalisis doa-doa tersebut. Dan hasilnya, tidak terlalu mengejutkan.

Sebagian besar doa itu berisi pengumuman. Misalnya, “Terima kasih Tuhan, Kau telah melancarkan urusanku ini.” Meski berbentuk doa, sebenarnya mereka hanya ingin mengatakan kepada dunia bahwa dia telah berhasil melakukan suatu pekerjaan. Dengan membuat status berbentuk doa, mereka mungkin berharap pengumuman itu tidak terdengar pamer keberhasilan.

Model itu sama dengan model keluh kesah, seperti “Ya Allah, hari ini terasa berat, ringankanlah bebanku.” Dengan doa seperti ini mereka sebenarnya ingin berbagi dengan orang lain. Yang mereka harapkan adalah komentar dari teman-teman: “Sabar ya bu/pak …”Yang agak aneh sebenarnya adalah menjadikan Tuhan sebagai “sasaran antara” untuk menyentil orang lain.

Misalnya, “Tuhan, sadarkanlah dirinya.” Penulis status ini jelas ingin agar orang yang dituju membaca doa itu dan terusik. Biasanya, komentar dari teman-teman mereka akan berbunyi: “Siapa sih dia?” Dan penulis status akan menjawab: “Ada deh …

”Tentu saja, pemilik akun itu sah-sah saja menulis status apa pun. Akun-akun dia, apa hak kita melarangnya? Tapi, saya kok masih percaya, Tuhan lebih mendengar doa yang disampaikan secara lirih dan dalam kesepian.

Bukan di media sosial yang berisik. d^_^b d^_^b


_____
(surat elektronik | dikirim oleh djeng er @catfiz | 11.05.2017)

Jumat, 22 September 2017

Gerakan 1821

Ayah dan Bunda yang baik hati, khususnya yang mempunyai anak SMA ke bawah (SMP, SD, TK) ..., betapa dahsyatnya pengaruh HP terhadap perkembangan anak-anak kita. Anak-anak semakin egois, susah dikendalikan dan terkena dampak negatif lainnya.

Untuk itu mari kita lawan dengan  "Gerakan 1821"

Apa itu "Gerakan 1821"?

Gerakan 1821 adalah himbauan kepada para orang tua untuk melakukan puasa gadget/HP, hanya 3 jam saja, yaitu mulai pukul 18.00 s/d 21.00.

Simpan dahulu HP-nya ayah, bunda,
simpan dahulu BB, Tab, dan laptop-nya.

Temanilah anak-anak kita, hanya 3 jam saja.
Bersama mereka, dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa dan raga kita.

Apa yang harus dilakukan selama 3 jam?

Melaksanakan 3B yaitu
Bermain,
Belajar,
Bicara (obrol).
Iya, cuma 3 jam dan 3B saja.

Bermain apa saja, boleh mainan tradisional, bermain petak-umpet, tebak-tebakan, pokoknya apa saja sesuai dengan usia anak.

Bisa juga menemani mereka belajar.
Belajar agama dan apa saja yang positif.
Bisa mengerjakan PR, belajar ilmu baru, berbagi pengalaman pengetahuan dan yang lainnya.

Juga bisa diisi dengan banyak mengobrol.
Bicara, bicara, dan bicara.
Ajak anak-anak bicara.
Topiknya bisa apa saja.
Lebih utama bicara tentang mereka, pengalaman mereka, keinginan mereka, pokoknya apa saja.

Hanya 3B: bermain, belajar, bicara, dan tidak semuanya harus dilakukan pada saat yang sama, bisa dijadwal dan dibuat se-enjoy mungkin.
Bisa dikombinasikan.
Pilih aktivitas yang nyaman dilakukan bersama.

Mari Ayah, ayo Bunda.
Puasa gadget/HP dan  TV ...
Hanya 3 jam saja.
Pukul 18 s/d 21 saja!

Ingat ya ... 1821 ...!

Mari kita coba ...!  Semoga bermanfaat!

_____
(surat elektronik | anonim)

Sabtu, 09 September 2017

Dahulu Aku Siapa dan Sekarang Mau ke Mana?

Asalamualaikum wr.wb.
Semangat pagi ...
Bismillah, saudaraku ...! Tafakur sejenak ...

Dahulu ....

Aku sangat KAGUM pada manusia yang:
» Cerdas,
» Kaya,
» Berhasil dalam Karier,
» Hidup sukses,
» dan Hebat  Dunianya.

Sekarang ...

Aku memilih untuk mengganti kriteria kekagumanku.
Aku kagum dengan:
» Manusia yang Hebat di mata Allah SWT 
» Sekali pun kadang penampilannya begitu biasa dan sangat bersahaja.

Dahulu ...

Aku memilih MARAH ketika merasa 'Harga Diriku' dijatuhkan oleh orang lain yang 'Berlaku Kasar Kepadaku' dan menyakitiku dengan 'Kalimat-Kalimat Sindiran'.

Sekarang ...

Aku memilih untuk BANYAK BERSABAR dan MEMAAFKAN, Karena aku yakin 'Ada Hikmah Lain'.  yang datang dari mereka ketika aku mampu untuk 'Memaafkan dan Bersabar'.

Dahulu ...

Aku memilih MENGEJAR DUNIA dan 'Menumpuknya' sebisaku....
Ternyata aku sadari kebutuhanku hanyalah 'Makan dan Minum' untuk hari ini.

Sekarang ...

Aku memilih untuk BERSYUKUR dan BERSYUKUR dengan apa yang ada dan memikirkan bagaimana aku bisa 'Mengisi Waktuku' hari ini dengan apa yang bisa aku lakukan/perbuat dan bermanfaat 'Untuk Sesamaku'.

Dahulu ...

Aku berpikir bahwa aku bisa MEMBAHAGIAKAN
» Orang tua,
» Saudara,
» dan teman-temanku
jika aku berhasil dengan duniaku ... Ternyata yang membuat mereka bahagia 'Bukan Itu', melainkan :
» Ucapan,
» Sikap,
» Tingkah,
» dan Sapaanku kepada mereka.

Sekarang ...

Aku memilih untuk 'Membuat Mereka Bahagia' dengan apa yang ada padaku karena aku ingin ke-Manfaat-an ku di tengah-tengah mereka...
(Sebaik-baik Manusia adalah yang Bermanfaat buat Manusia lainnya)

Dahulu ...

Fokus pikiranku adalah membuat RENCANA-RENCANA DAHSYAT untuk Duniaku...
Ternyata aku menjumpai teman dan saudara-saudaraku begitu cepat menghadap kepada-NYA...

Sekarang ...

yang menjadi 'Fokus Pikiran' dan 'Rencana-Rencana' ku adalah Bagaimana agar Hidupku dapat Berkenan di mata Allah SWT  dan Sesama jika suatu saat nanti diriku dipanggil oleh-NYA.

→ Tak ada yang  dapat menjamin bahwa aku dapat menikmati 'Teriknya Matahari Esok Pagi'

→ Tak ada yang  bisa memberikan jaminan kepadaku bahwa aku masih bisa 'Menghirup Udara Besok Hari'.

Jadi apabila 'Hari Ini dan Esok Hari' aku masih hidup, itu adalah karena kehendak Allah SWT  semata, bukan kehendak siapa-siapa ...

Renungan ini mengintropeksi kita agar lebih mawas diri bahwa:
'DAHULU' aku ini siapa?
Dan 'SEKARANG' aku mau ke mana?

Inna sholatii wa nusukii wamahyayaa wamamaati lillahi Robbil 'alamiin

Semoga bermanfaat.

_____
(surat elektronik | anonim)

Sabtu, 02 September 2017

Nasihat dari Si Mbah

Wong yen nerimo, uripe dowo
Wong yen sabar, rejekine jembar
Wong yen ngalah, uripe bakal berkah ...
Sopo sing jujur, uripe yo makmur
Sopo sing suloyo, uripe yo sangsoro.
Sopo sing sombong, amale bakal kobong.
Sopo sing telaten, bakal panen ...
Ojo podo ngresulo, mundak cepet tuwo,
Sing wis lungo, lalekno,
Sing durung teko, entenono,
Sing wis ono, syukurono ...
Sehat kuwi yen,
Mangan enak ...
Turu kepenak ...
Ngibadah jenak ...
Tonggo semanak ...
Keluarga cedhak ...
Bondo cemepak ...
Kubur ora sesak ...
Suwargo mbukak ...
Sedulur grapyak ...
Ono panganan ora cluthak ...
Ketemu konco ngguyu NGAKAK ...

_____
(surat elektronik | anonim)