Selasa, 27 Maret 2018

Pendidikan yang Menghukum di Indonesia

Oleh: Rhenald Kasali

Lima belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal, dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya, tulisan itu buruk. Logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat.

“Maaf, Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya.
Dia pun tersenyum.

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya.

“Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!”, dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam.

Padahal, saat menempuh ujian program doktor di luar negeri, saya dapat melewatinya dengan mudah. Pertanyaan para dosen penguji memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun, suasana ujian dibuat sangat bersahabat.

Seorang penguji bertanya, sedangkan penguji yang lainnya tidak ikut menekan. Melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

Etikanya, seorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan. Tapi yang sering terjadi di tanah air justru penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya.

Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukannya melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul.

Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga cenderung menguji dengan cara menekan. Ada semacam unsur balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Lantas saya berpikir, pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakter hasil didikan guru-gurunya sangat kuat: yaitu karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu, saya pun mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa bersalah karena telah memberinya penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya justru mengatakan bahwa “gurunya salah”. Kini, saya mampu melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan rasa takut?

Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: Rotan pemukul, dilempar kapur atau penghapus oleh guru, setrap, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata ancaman: Awas…; Kalau…; Nanti…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin membuat kita lebih disiplin. Namun, juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat.

Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari. atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian, kecerdasan manusia dapat tumbuh, tetapi sebaliknya juga dapat menurun.

Ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh. Tetapi, juga ada orang yang “tambah pintar” dan ada pula orang yang “tambah bodoh”.

Mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan.

Bantulah anak Indonesia untuk maju.

#Semoga bacaan ini, bisa bantu teman-teman tentang makna mendidik ...
Mendidik adalah untuk merangsang anak agar maju,
Membantu menemukan potensi terbaik anak dan mengembangkannya,
Menjadikan anak berbudi pekerti yang baik.

SALAM PERUBAHAN POLA PIKIR

_______
info@grup wa, 21022018

Selasa, 20 Maret 2018

Seperti Burung Hud-Hud dan Bebek

Seekor burung hud-hud jika ditinggal pergi betinanya dia tidak akan makan dan minum sampai sang betinanya datang, dan jika betinanya mati dia tidak melirik betina yang lain.

Seekor  bebek betina dia akan tinggal hanya dengan seekor pejantan. Apabila si jantan mati, maka dia akan menyendiri sepanjang umurnya.

Ya Allah jadikanlah para suami (kesetiaannya) seperti seekor hud-hud dan para istri seperti seekor bebek

#kurang lebih begitu @bang miqo πŸ˜†
sbc

_____
(surat elektronik | anonim)

Selasa, 13 Maret 2018

Hargailah Perhatian dan Kasih Sayang!

Baca sedih πŸ˜“

Cowok BBM-an sama cewek yang disukainya πŸ˜€

Cowok: hai, good morning πŸ˜€ 
Cewek: (tidak dibalas) ...

Cowok: aku sudah mau berangkat sekolah, kamu ... hati-hati ya
Cewek: (tidak dibalas) ...

Cowok: hai selamat siang kamu lagi apa sudah makan belum?
Cewek: (tidak dibalas) ...

Cowok: meski kamu tak pernah balas BBM aku, aku akan tetap BBM kamu ... jangan lupa makan malam yaa
Cewek: (tidak dibalas) ...

Cowok: entar sebelum tidur jangan lupa sikat gigi ya 😊 semoga mimpi indah ya ... πŸ˜€
Cewek: (tetap tak mau balas) ...

Cowok: selamat pagi, jangan lupa makan ya, gosok gigi ... cuci muka terus, sarapan ya!
Cewek: (tidak dibalas) ...

Cowok: hari ini aku tidak sekolah, aku mau pergi ke rumah sakit
Cewek: Siapa yang sakit, kamu? Sakit apa?

Cowok: Hehehehe, tak ada kok tak ada yang sakit cuma ingin ke sana saja, lagian aku juga lagi pengen BBM kamu kalau tidak kaya gini kamu juga tidak balas BBM aku (senang banget BBM-nya dibalas!) 😊 
Cewek: (tidak dibalas lagi) ...

Cowok: kamu marah ya? 😞  Ya sudah aku minta maaf 😩 aku kan cuma pengen BBM kamu 😞 bukan mau ngerjain kamu 😞
Cewek: (tidak dibalas) ...

Cowok: aku tahu kamu marah, ya sudah mungkin mulai besok aku takkan ganggu kamu lagi, tidak BBM kamu lagi, aku minta maaf ya, aku juga sudah maafkan kamu kok 😊 Jaga diri kamu baik-baik ya, aku akan merindukanmu .....


Setelah BBM, sang cowok pun tak pernah BBM si cewek lagi, hingga buat si cewek merasa bersalah, akhirnya si cewek BBM dia kembali.

Cewek: ya, aku maafkan kamu 😊 aku juga akan jaga diri baik-baik kok πŸ˜‡ Emang kamu mau ke mana?

Kemudian dibalasin: jangan BBM ke sini lagi. Dia sudah meninggal, hari ini pemakamannya kalau kamu bisa, datang ya (BBM-nya yang kirim kakak si cowok)

😒😒😒😒

Bukan hanya cewek tapi juga cowok πŸ˜‡
hargailah usaha seseorang ... yang memberimu perhatian dan kasih sayang, karena kita tak pernah tahu, kapan mereka pergi dan terus menghilang sebelum kita mengucapkan terima kasih!?

Kalau kamu suka dengan seseorang, BC ke semua kontak
Aku ingin tahu siapa yang tidak πŸ˜‘ sombong ya!! πŸ˜‰ aku rapopo
 

_______
(surat elektronik | anonim)

Selasa, 06 Maret 2018

JANGAN Buru Buru Menghakimi dan Berburuk Sangka

Kisah inspiratif:

Ada sepasang suami istri tergesa-gesa berlari menuju ke HELIKOPTER di PUNCAK GEDUNG HOTEL  untuk menyelamatkan diri, pada saat terjadi KEBAKARAN.

Tetapi saat sampai di atas sana, mereka menyadari bahwa hanya ada tempat untuk satu orang yang tersisa. Dengan segera sang suami melompat mendahului istrinya untuk mendapatkan tempat itu, sementara sang istri hanya bisa menatap kepadanya sambil meneriakkan sebuah kalimat sebelum HELIKOPTER menjauh.

Dan kejadian berikutnya ... API ITU SEMAKIN MEMBESAR dan MENGHANGUSKAN seluruhnya (termasuk sang ISTRI)


DOSEN yang menceritakan kisah ini bertanya pada mahasiswa-mahasiswanya, menurut kalian, apa yang sang istri itu teriakkan? ....

Sebagian besar mahasiswa - mahasiswi itu menjawab:
- Kamu JAHAT
- Aku benci kamu,
- kurang ajar ...
- kamu egois,
- enggak tanggung jawab,
- enggak tahu malu ... kamu.

Tapi ada seorang mahasiswi yang hanya diam saja, dan guru itu meminta mahasiswi yang diam itu menjawab,

Kata si mahasiswi, saya yakin si istri pasti berteriak ... Tolong jaga anak kita baik-baik.

Dosen itu terkejut dan bertanya, apa kamu sudah pernah dengar cerita ini sebelumnya?

Mahasiswi itu menggeleng, belum, tapi itu yang dikatakan oleh ibu saya sebelum dia meninggal karena penyakit kronis.

DOSEN  itu menatap seluruh kelas dan berkata:
Jawaban ini benar, .....

HOTEL itu kemudian benar-benar terbakar habis ... dan ... sang suami harus kembali ke kota kecilnya dengan air mata yang terus menetes harus menjemput dan mengasuh serta membesarkan anak-anak mereka yang masih TK dan BALITA ... sendirian, dan Kisah Tragedi tersebut disimpan rapat-rapat tanpa pernah dibahas lagi.

Dan bertahun-tahun kemudian, anak-anak itu sudah menjadi dewasa .... ada yang menjadi pengusaha ... ada yang menjadi dokter ... dan 1 lagi masih bekerja sambil kuliah.


Pada suatu hari ketika anak bungsunya bersih-bersih kamar sang Ayah, dia menemukan buku harian ayahnya.

Dia menemukan kenyataan bahwa terjadi kebakaran di hotel waktu itu, mereka sedang berobat jalan karena sang ibu menderita penyakit kanker ganas dan divonis dokter akan segera meninggal.

Karena itulah, di saat darurat itu, ayahnya memutuskan mengambil satu-satunya kesempatan untuk bertahan hidup. Dan dia menulis di buku harian itu,

Betapa aku berharap istriku tercinta lah yang naik ke helikopter itu. Tapi ... demi anak-anak, terpaksa dengan hati menangis, aku membiarkan kamu tertinggal di sana dan meninggal sendirian.

Si anak bungsu kemudian menceritakan  kepada kedua kakaknya ... dan mereka ... bertiga segera menyusul sang Ayah di kampus ..... mereka sujud mencium kaki sang Ayah bergantian .....(mengucap syukur atas perjuangan sang Ayah membesarkan mereka semua, walau harus menanggung beban mental yang demikian berat.


Cerita itu selesai, .... dan seluruh kelas pun terdiam.

Dosen itu kemudian berkata, "Siapakah sang Ayah?"

.....

Sang Ayah itu ... saat inilah yang ada di hadapan kalian.

Para mahasiswa pun segera bertepuk tangan, ada yang berlarian memeluk sang DOSEN, ada yang terhenyak meneteskan air mata haru.

          πŸ”™πŸ”œπŸ”™πŸ”œπŸ”™πŸ”›

Mereka sekarang mengerti Hikmah dari cerita nyata tersebut,

bahwa kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidak sesederhana yang kita pikirkan, ada berbagai macam komplikasi dan alasan di baliknya yang kadang sulit dimengerti.

Karena itulah jangan pernah melihat hanya luarnya saja dan kemudian langsung menghakimi, apalagi tanpa tahu apa-apa.

          πŸ”™πŸ”›πŸ”™πŸ”›πŸ”™πŸ”›

Mereka yang sering membayar untuk orang lain bukan berarti kaya, tapi karena lebih menghargai hubungan daripada uang.

Mereka yang bekerja tanpa ada yang menyuruh bukan karena bodoh, tapi karena lebih menghargai konsep tanggung jawab.

Mereka yang minta maaf duluan setelah bertengkar bukan karena bersalah, tapi karena lebih menghargai orang lain.

Mereka yang mengulurkan tangan untuk menolongmu bukan karena merasa berutang, tapi karena menganggap kita adalah sahabat.

Mereka yang sering mengontakmu bukan karena tidak punya kesibukan, tapi karena kita ada di dalam hatinya.


JANGAN MUDAH MENGAMBIL KESIMPULAN KARENA ASUMSI.

Salam hangat luar biasa! Semoga bermanfaat ... LOVE YOU ALL  πŸ™πŸΌπŸŒΊπŸŒΈπŸ˜­πŸ˜­πŸ˜­

_______
@grupwa, 03072017